Ntvnews.id, New York - Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi mengenai penggunaan peta dunia dengan skala yang dinilai lebih mendekati kondisi geografis sebenarnya. Resolusi tersebut diajukan oleh Togo, negara di Afrika Barat yang juga merupakan anggota Uni Afrika.
Dilansir dari AFP, Rabu, 9 September 2026, Usulan tersebut memperoleh dukungan luas dari 164 negara anggota PBB. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut, sementara enam negara lainnya memilih abstain.
Meskipun resolusi itu tidak bersifat mengikat, PBB mendorong negara-negara serta organisasi internasional untuk mulai lebih banyak menggunakan peta dengan proyeksi Equal Earth. Penggunaan proyeksi tersebut terutama dianjurkan dalam konteks yang tidak membutuhkan ketepatan sudut.
Pada peta dengan proyeksi Equal Earth, ukuran Afrika terlihat lebih besar dan lebih mendekati luas sebenarnya jika dibandingkan dengan peta Mercator. Proyeksi Mercator yang dibuat oleh kartografer Gerhard Mercator telah digunakan sebagai salah satu standar pemetaan dunia selama berabad-abad.
Sebaliknya, Amerika Serikat dalam peta Equal Earth terlihat lebih kecil dan ukurannya lebih mendekati kondisi geografis sebenarnya.
Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menjelaskan alasan negaranya mendorong perubahan tersebut dalam perdebatan di Sidang Umum PBB. Menurutnya, peta memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia memahami dunia.
"Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia," kata Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey saat berdebat di Sidang Umum PBB.
Baca Juga: Kemitraan Tembakau Dorong Produktivitas dan Kesejahteraan Petani Rembang
Dussey menilai peta tidak sepenuhnya bersifat netral. Menurutnya, terdapat kemungkinan sebuah peta menyampaikan gambaran yang menyimpang akan planet ini dan memperkuat persepsi yang keliru, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generas".
Setelah resolusi disahkan, Dussey kembali menyampaikan pandangannya melalui media sosial.
"Ini soal keadilan, martabat, kesetaraan, dan cara kita menggambarkan dunia kita." Menurutnya, kartografi tradisional selama ini telah terlalu lama memengaruhi persepsi masyarakat mengenai ukuran sebenarnya Afrika dan sejumlah kawasan lainnya.
"Memperbaiki peta berarti memperbaiki cara kita memandang dunia," kata Menlu Togo tersebut.
Permukaan Bumi Sulit Digambarkan Secara Sempurna
Amerika Serikat justru mengkritik usulan tersebut dengan menyebutnya sebagai proyek "ideologis" yang dinilai mengalihkan perhatian dari berbagai persoalan internasional yang dianggap lebih penting.
Perdebatan mengenai peta tersebut pada dasarnya berkaitan dengan persoalan kartografi. Ketika bentuk Bumi yang bulat digambarkan dalam bidang dua dimensi, permukaan bola harus diproyeksikan ke bidang datar.
Proses tersebut dapat dianalogikan seperti kulit jeruk yang ditempelkan pada permukaan datar. Secara geometris, proses ini tidak mungkin dilakukan tanpa menimbulkan distorsi pada bagian tertentu.
Karena itu, tidak ada satu jenis peta yang mampu menggambarkan seluruh aspek Bumi secara sempurna. Kartografer harus menentukan unsur mana yang menjadi prioritas dalam sebuah peta.
Beberapa peta dapat mempertahankan kontur dan arah kompas dengan tingkat akurasi tinggi. Hal tersebut dahulu sangat penting untuk kebutuhan navigasi laut. Namun, konsekuensinya adalah luas wilayah dan perbandingan ukuran antardaerah menjadi kurang akurat.
Greenland Tampak Sangat Besar
Foto ini, yang diambil pada 16 Januari 2026, menunjukkan sebuah gunung di dekat Nuuk, ibu kota Greenland, wilayah otonom Denmark. ANTARA/XInhua/Anders Kongshaug (Antara)
Kondisi tersebut terlihat jelas pada peta dengan proyeksi Mercator. Dalam proyeksi ini, wilayah yang letaknya semakin jauh dari garis khatulistiwa akan terlihat semakin besar.
Akibatnya, Greenland dalam peta Mercator tampak memiliki luas yang hampir setara dengan seluruh Afrika. Padahal, secara geografis, luas Afrika sebenarnya sekitar 14 kali lebih besar dibandingkan Greenland.
Proyeksi Equal Earth menawarkan pendekatan berbeda dengan mempertahankan perbandingan luas wilayah agar lebih sesuai dengan skala sebenarnya. Karena itu, Greenland tidak lagi terlihat berukuran sangat besar seperti pada peta Mercator.
Namun, Equal Earth juga memiliki keterbatasan. Bentuk wilayah dan perbandingan sudut tertentu pada peta tersebut dapat mengalami perubahan sehingga tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.
Setiap jenis proyeksi peta memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pemilihannya bergantung pada tujuan penggunaan. Untuk kebutuhan navigasi, misalnya, proyeksi Mercator masih dinilai memiliki manfaat tersendiri.
Sementara itu, untuk keperluan pendidikan, terdapat pilihan lain yang lebih sederhana dan tidak menimbulkan perdebatan mengenai distorsi, yakni penggunaan globe. Representasi Bumi dalam bentuk bola tersebut dapat membantu pelajar memahami bentuk planet secara lebih menyeluruh.
Ilustrasi: Peta negara-negara Teluk Persia