Ntvnews.id, New York - Dunia kini dinilai memasuki zona bahaya cuaca ekstrem seiring semakin kuatnya fenomena El Nino yang mulai memberikan dampak di berbagai wilayah. Peringatan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antnio Guterres.
"El Nio sedang membesar di depan mata kita. Ilmu pengetahuan tidak perlu diragukan: planet ini tengah berada dalam kondisi yang belum terpetakan dan sukar diprediksi. Suhu permukaan laut pun kini kian memanas," kata Guterres.
Dilansir dari BBC, Sabtu, 5 September 2026, Data terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperlihatkan bahwa fenomena alam tersebut berpotensi menjadi salah satu El Nino terkuat dalam lebih dari tujuh dekade. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari 2027.
Dampak El Nino yang paling luas dirasakan adalah perubahan pola cuaca. Sejumlah kawasan berpotensi menghadapi kekeringan, sementara wilayah lainnya justru berhadapan dengan badai tropis, hujan ekstrem, dan banjir besar.
Para ahli meteorologi juga memperkirakan fenomena tersebut dapat mendorong kenaikan suhu di sejumlah kawasan. Kondisi itu berpotensi memperburuk dampak pemanasan global yang selama ini dipengaruhi oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
BBC berbicara dengan sejumlah pemerintah dan pakar untuk mengetahui berbagai langkah yang dapat dilakukan guna menekan risiko korban jiwa, pengungsian, serta kerusakan lingkungan akibat cuaca ekstrem.
Meskipun sistem peringatan dini telah diperkuat dan sejumlah bantuan medis dipersiapkan lebih awal, besarnya potensi dampak El Nino tetap menjadi perhatian. Risiko tersebut dinilai semakin serius bagi masyarakat yang berada dalam kondisi rentan.
WMO, badan PBB yang menangani persoalan cuaca dan iklim, menyatakan telah melakukan "mobilisasi besar-besaran" untuk mendistribusikan informasi serta prakiraan cuaca ekstrem yang berkaitan dengan El Nino kepada masyarakat di berbagai negara.
Sekretaris Jenderal WMO, Prof Celeste Saulo, memperingatkan bahwa dampak fenomena tersebut dapat dirasakan secara luas.
"El Nio berpotensi memberikan pukulan besar terhadap masyarakat dan perekonomian di seluruh dunia."
El Nino sendiri merupakan fenomena alam yang terjadi akibat perubahan pola angin di Samudra Pasifik. Fenomena ini menyebabkan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tertentu dan membuat panas dari laut berpindah ke atmosfer.
Baca Juga: PBB Peringatkan Pemanasan Global Bakal Tembus Batas 1,5 Derajat Celsius
Dalam beberapa bulan terakhir, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tropis bagian tengah dan timur mengalami peningkatan signifikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator bahwa El Nino terus menguat.
Di wilayah pemantauan utama Pasifik, suhu permukaan laut dalam beberapa pekan terakhir tercatat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata. Bahkan, sejumlah prakiraan memperkirakan suhu permukaan laut bulanan dapat mencapai 4 derajat Celsius di atas kondisi normal.
Pemanasan juga terjadi di lapisan bawah permukaan laut Pasifik. Di beberapa lokasi, suhu tercatat lebih dari 8 derajat Celsius di atas rata-rata.
Dengan kondisi tersebut, El Nino kali ini berpotensi menjadi yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950 karena diperkirakan melewati sejumlah ambang batas historis.
Kenaikan suhu permukaan laut di atas normal juga diprediksi terjadi di berbagai kawasan lain, termasuk Samudra Hindia, wilayah tropis Atlantik, serta perairan di sekitar Australia.
Bagi Australia, perubahan suhu laut menjadi perhatian besar mengingat negara tersebut memiliki ekosistem laut yang sangat kaya. Dalam beberapa tahun terakhir, Australia telah mengalami sejumlah kejadian pemanasan laut ekstrem yang dipicu gelombang panas laut akibat perubahan iklim.
Peneliti utama di Badan Sains Australia, Dr Alistair Hobday, mengatakan kepada BBC bahwa El Nino cenderung membawa kondisi panas ekstrem yang kemudian dapat memicu berbagai bencana.
Tahun ini, prakiraan gelombang panas laut menunjukkan Great Barrier Reef kemungkinan terhindar dari skenario terburuk. Kondisi tersebut diharapkan memberikan kesempatan bagi terumbu karang untuk melakukan pemulihan.
"[Namun] Australia Selatan sedang terpukul keras," kata Hobday.
Ketika gelombang panas laut sebelumnya melanda Australia Selatan dan Tasmania, berbagai dampak ekologis terjadi. Di antaranya kelaparan penguin, kematian ikan dalam jumlah besar, ledakan populasi alga, hingga meningkatnya keberadaan ubur-ubur.
Australia kemudian memperkenalkan sistem peringatan dini untuk menghadapi potensi krisis lingkungan di wilayah laut. Sistem tersebut dapat membantu mempersiapkan dukungan finansial bagi industri perikanan, melakukan relokasi spesies penting, serta meningkatkan pemantauan kondisi terumbu karang.
Namun, kondisi yang akan terjadi kali ini dinilai sulit diprediksi karena berpotensi melampaui pengalaman sebelumnya. Hobday mengaku "cukup khawatir".
Kekeringan Picu Gangguan Perdagangan
Ilustrasi Termometer Suhu Panas (Pixabay)
WMO memperkirakan perubahan pola curah hujan yang cukup signifikan akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Sejumlah wilayah, termasuk Asia Tenggara, Amerika Tengah, dan bagian utara Amerika Selatan, diprediksi mengalami kondisi yang lebih kering. Situasi tersebut meningkatkan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan.
Pada Kamis (3/9), Panama mengumumkan rencana mengurangi jumlah kapal yang melewati Terusan Panama lebih dari 10 persen sebagai langkah antisipasi terhadap potensi penurunan curah hujan.
Terusan Panama biasanya dilalui sekitar 14.000 kapal setiap tahun. Jalur air buatan tersebut menjadi salah satu rute penting perdagangan internasional sekaligus sumber pemasukan utama bagi Panama yang menghasilkan sekitar US$3 miliar per tahun.
Indonesia juga tengah menghadapi tantangan serupa dalam mengendalikan kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran dilaporkan telah menghanguskan lebih dari 107.000 hektare lahan yang tersebar di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua selama musim kemarau.
Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang tahun ini, sebagaimana sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Sejumlah warga Kalimantan Tengah mengatakan kepada BBC News Indonesia bahwa kebakaran hutan telah berlangsung "selama lebih dari sebulan".
"Asapnya sudah menjadi cukup tebal. Ketika kami keluar rumah, mata kami mulai perih. Bau asapnya juga cukup kuat," kata Darwin Romy.
Pemerintah berencana mengerahkan pesawat untuk melakukan penyemaian awan dengan tujuan meningkatkan peluang turunnya hujan dan membantu memadamkan kebakaran.
Selain itu, pemerintah menjanjikan tambahan sumber daya untuk menangani karhutla serta telah menangkap puluhan orang yang diduga melakukan pembakaran untuk membuka lahan.
Topan dan Ancaman Tanah Longsor
China memperkirakan terdapat tujuh topan yang akan mencapai daratan negaranya tahun ini. Para ahli di negara tersebut mengaitkan meningkatnya aktivitas topan dengan pengaruh super El Nino.
Sepanjang Juli, tiga topan tercatat menerjang China, yakni Bavi, Noul, dan Maysak. Bencana tersebut menyebabkan puluhan orang meninggal dunia.
Pada Agustus, lebih dari satu juta warga harus meninggalkan rumah mereka setelah Topan Dolphin membawa hujan deras dan angin kencang ke sejumlah wilayah.
Selain China, beberapa kawasan Afrika Timur, Brasil bagian selatan, serta wilayah selatan Amerika Serikat juga diperkirakan mengalami curah hujan lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan ancaman banjir.
"Kita sudah melihat gangguan dan kehancuran akibat kekeringan dan banjir. Kita memperkirakan dampak ini akan meningkat seiring El Nio yang semakin kuat," kata Sekretaris Jenderal WMO, Prof Celeste Saulo.
Ancaman tersebut berlangsung di tengah tren pemanasan global jangka panjang yang dipengaruhi aktivitas manusia. Kondisi itu berpotensi membuat dampak El Nino menjadi semakin berat.
Baca Juga: PBB Kerahkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Nepal-China
Sejumlah ilmuwan menduga perubahan iklim dapat memperkuat fenomena El Nino, meskipun hubungan tersebut hingga kini masih belum dapat dipastikan sepenuhnya.
Peru termasuk negara yang sangat rentan terhadap dampak El Nino karena wilayah pesisirnya berbatasan langsung dengan kawasan Pasifik timur.
Sejumlah daerah di Peru, Ekuador, dan sebagian Brasil telah mengalami peningkatan curah hujan yang memicu banjir bandang serta tanah longsor. Ancaman tersebut terutama terasa di wilayah perkotaan yang sistem drainasenya tidak mampu mengalirkan air dalam jumlah besar secara cepat.
Miguel Arestegui, kepala ketahanan iklim di Practical Action, organisasi yang membantu negara-negara menghadapi cuaca ekstrem, mengatakan bahwa kekhawatiran terhadap El Nino harus diikuti dengan langkah konkret.
"kami sangat khawatir, tetapi kekhawatiran itu perlu diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan, bukan kepanikan."
Menurut Arestegui, Practical Action bersama sejumlah mitra telah bekerja selama beberapa tahun untuk memperluas akses masyarakat terhadap sistem peringatan dini.
Upaya tersebut mencakup penyampaian informasi mengenai ketinggian permukaan sungai, potensi banjir, hingga prakiraan cuaca agar masyarakat dapat melakukan persiapan lebih awal.
Pada akhir Agustus, Amerika Serikat mengumumkan pengerahan kapal USNS Comfort ke perairan pesisir Peru. Kapal tersebut membawa bantuan medis tambahan serta peralatan teknis sebagai persiapan menghadapi puncak El Nino.
Namun, Arestegui menegaskan bahwa El Nino "tidak datang dalam ruang hampa".
Ia menjelaskan bahwa terdapat berbagai persoalan struktural yang membuat dampak bencana semakin parah dan membutuhkan waktu lebih panjang untuk ditangani.
"perumahan di daerah yang rentan, sistem air dan sanitasi yang rapuh, serta sistem layanan kesehatan yang lemah", katanya.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (ANTARA/Anadolu/py/am.) (Antara)