Ntvnews.id, Manila Ribuan pelajar sekolah menengah di Filipina mengikuti latihan simulasi menghadapi ancaman penembakan aktif secara serentak di wilayah Bulacan, Kamis, 3 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi langkah baru dalam upaya memperkuat sistem keamanan di lingkungan sekolah setelah dua insiden penembakan terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Dilansir dari AFP, Sabtu, 5 September 2026, simulasi ini digagas oleh Departemen Pendidikan Filipina. Salah satu pelaksanaannya berlangsung di SMA Carlos F Gonzales, yang berada di wilayah utara Manila dan diikuti sekitar 3.000 siswa tingkat SMP dan SMA.
Dalam latihan tersebut, para siswa mempraktikkan prosedur perlindungan diri ketika menghadapi ancaman penembakan. Mereka membarikade pintu ruang kelas dengan meja dan kursi, memadamkan lampu, kemudian berlindung di bawah meja.
Latihan tersebut sekaligus menunjukkan perubahan pola kesiapsiagaan sekolah di Filipina. Sebelumnya, sekolah-sekolah di negara itu lebih sering mengadakan simulasi untuk menghadapi bencana alam, seperti gempa bumi dan kebakaran.
"Kami hampir menyempurnakan latihan kebakaran dan gempa bumi kami, dan ini adalah sesuatu yang baru, jadi kami perlu melakukan latihan semacam ini," kata Wakil Menteri Pendidikan Filipina Malcolm Garma, dikutip dari AFP.
Baca Juga: Polisi Selidiki Penembakan 3 Kendaraan Freeport di Mile 60 Tembagapura
Menurut Garma, simulasi tersebut ditujukan agar pihak sekolah dan para siswa dapat mengenali potensi ancaman serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika situasi darurat terjadi.
"Melalui latihan semacam ini, kami ingin sekolah-sekolah kami menjadi sadar, mampu mengenali ancaman-ancaman semacam ini dan mampu meresponsnya," sambungnya.
Perhatikan Kondisi Psikologis Siswa
Latihan berlangsung selama sekitar 12 menit dengan melibatkan 250 tenaga pengajar, aparat kepolisian, serta tim tanggap darurat. Dalam proses evakuasi, siswa diarahkan keluar dari ruang kelas dengan kedua tangan diangkat sebagai bagian dari prosedur keamanan.
Setelah keluar dari gedung, para siswa dikumpulkan di area tertutup untuk menjalani evaluasi psikologis sekaligus menunggu proses penjemputan oleh orang tua masing-masing.
Pelaksanaan simulasi yang sebelumnya sempat ditunda pada bulan lalu juga mengalami perubahan setelah Departemen Pendidikan Filipina menerima masukan dari sejumlah praktisi kesehatan mental.
Pemerintah kemudian menghapus sejumlah adegan yang dinilai berpotensi menimbulkan ketakutan berlebihan. Simulasi tidak lagi menampilkan aksi agresif pelaku penembakan maupun visual yang dapat memicu trauma pada siswa.
Ilustrasi - Penembakan (Antara)
Sebagai gantinya, digunakan suara alarm khusus sebagai tanda peringatan. Cara tersebut diharapkan dapat melatih respons prosedural siswa tanpa memberikan tekanan psikologis yang berlebihan.
"Saya juga merasa takut ketika mendengar akan ada latihan seperti ini, tetapi berpartisipasi dalam latihan ini adalah langkah untuk mengurangi rasa takut dan mempersiapkan kami serta siswa kami," ungkap Roy Fama, salah seorang guru di SMA Carlos F Gonzales.
Meski bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan, pelaksanaan simulasi penembakan aktif tersebut tidak sepenuhnya mendapat dukungan. Sejumlah orang tua dan pengelola sekolah mempertanyakan kemungkinan dampak jangka panjang latihan terhadap kondisi psikologis anak-anak.
Kekhawatiran muncul karena simulasi serangan bersenjata dikhawatirkan dapat membuat anak memandang lingkungan di sekitar mereka sebagai tempat yang selalu dipenuhi ancaman.
Direktur Infant Jesus Academy Kampus Kalibo, Karina Mallonga, berpandangan bahwa penguatan layanan konseling di sekolah serta dukungan terhadap kondisi emosional siswa justru perlu mendapat perhatian lebih besar.
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri dan Pemerintahan Lokal Filipina Jonvic Remulla menilai latihan tersebut penting untuk menguji kesiapan dan koordinasi antara kepolisian dengan berbagai unit tanggap darurat di lapangan.
"Saya sangat yakin bahwa kita akan merespons dengan lebih baik sekarang," ujarnya.
Ilustrasi - Insiden penembakan di sebuah festival. (Antara)