Ntvnews.id, Jakarta - Pemanasan global diperkirakan bakal melampaui ambang batas aman 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris hanya dalam hitungan beberapa tahun ke depan. Peringatan tersebut tertuang dalam laporan terbaru yang dirilis Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) pada Rabu (2/9/2026).
Bahkan melalui skenario paling optimistis sekalipun, kenaikan suhu global diproyeksikan bakal menembus puncaknya di angka 1,8 derajat Celsius di atas level praindustri. Laporan UNEP menggarisbawahi bahwa lonjakan suhu ini akan memicu cuaca ekstrem yang jauh lebih parah serta merusak ekosistem, yang pada akhirnya mengancam sektor kesehatan, ketahanan pangan, infrastruktur, hingga perekonomian dunia.
"Tidak ada hasil yang baik jika kita tetap berada di atas 1,5 derajat Celsius," kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen. "Di seluruh dunia, gelombang panas ekstrem sudah menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim akan terjadi lebih cepat, melanda lebih dahsyat, dan berlangsung lebih lama, sehingga menelan lebih banyak korban jiwa serta menyebabkan gangguan yang semakin parah."
Kendati bayang-bayang krisis semakin nyata, UNEP mencatat peluang untuk menekan kembali suhu bumi sesuai target Perjanjian Paris belum sepenuhnya tertutup. Skenario tersebut dapat ditempuh melalui skema overshoot, peak and decline sebuah jalur ketika suhu global dibiarkan sempat melampaui batas, menyentuh titik puncak, lalu berangsur diturunkan.
Untuk meminimalkan lonjakan pada titik puncak suhu tersebut, laporan itu menekankan krusialnya aksi pemangkasan emisi gas rumah kaca yang dilakukan secara masif, konstan, dan dimulai tanpa penundaan.
(Sumber: Antara)
Seorang anak perempuan bermain di area air mancur publik saat menikmati waktu luang di kawasan taman kota. (Antara)