Ntvnews.id, Paris - Gelombang panas yang menerjang Prancis semakin intensif. Sebanyak 78 wilayah ditetapkan dalam status siaga oranye pada Rabu, 12 Agustus 2026, dengan temperatur diprediksi menembus 40 derajat Celsius.
Badan meteorologi nasional Prancis, Meteo-France, memberlakukan peringatan gelombang panas tingkat oranye di 78 wilayah. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 80 wilayah pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Dilansir dari Anadolu Agency, Kamis, 13 Agustus 2026, suhu di sejumlah daerah Prancis diperkirakan berada pada kisaran 36 hingga 40 derajat Celsius atau sekitar 97-104 Fahrenheit selama periode panas ekstrem berlangsung.
Kondisi lebih panas diperkirakan terjadi di Saumur, Departemen Maine-et-Loire. Temperatur di kawasan tersebut diprediksi mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius atau sekitar 102-104 Fahrenheit.
Selain meningkatkan suhu, gelombang panas turut memperparah persoalan kekeringan yang melanda sejumlah daerah. BFMTV melaporkan 67 departemen kini berada dalam status krisis kekeringan pada pekan ini. Sementara itu, 20 departemen lainnya berada pada tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem di Korea Selatan Tewaskan 16 Orang
Menyusul kondisi tersebut, pemerintah memberlakukan pembatasan pemakaian air di berbagai wilayah. Aturan yang diterapkan mencakup pembatasan penyiraman tanaman, kegiatan mencuci atau membersihkan area luar ruangan, hingga penggunaan air untuk air mancur milik publik maupun pribadi.
Kondisi sumber air tanah juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Biro Penelitian Geologi dan Pertambangan Prancis (BRGM), sekitar 94 persen cadangan air tanah di negara tersebut mengalami penurunan level hingga 1 Agustus, menurut BFMTV.
Pemerintah Prancis menyebut hampir 70 persen wilayah negara kini berada dalam zona yang menerapkan aturan pembatasan penggunaan air akibat kekeringan.
Tak hanya persoalan air, cuaca panas dan kering juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan. Sebanyak 45 departemen telah ditetapkan dalam status siaga oranye karena menghadapi risiko kebakaran hutan yang tinggi.
Situasi tersebut membuat Prancis menghadapi berbagai tekanan secara bersamaan selama musim panas, mulai dari temperatur ekstrem, kekeringan yang meluas, berkurangnya ketersediaan air, hingga ancaman kebakaran hutan yang semakin besar.
Ilustrasi masyarakat Prancis alami gelombang panas (Antara)