Ntvnews.id, Moskow - Polandia menilai Rusia belum memiliki kekuatan militer yang memadai untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) selama sebagian besar kekuatan militernya masih dikerahkan dalam perang di Ukraina.
Dilansir dari AFP, Selasa, 29 September 2026, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengatakan kepada lembaga penyiaran publik TVP Info pada Senin, 28 September 2026, Warsawa memperoleh informasi dari berbagai sumber yang menunjukkan Rusia tengah mempersiapkan sesuatu yang besar tahun ini.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan rencana Moskow tersebut, Sikorski mengatakan hanya Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengetahui secara pasti.
"Tentu saja hanya Putin yang mengetahuinya. Namun, kita harus siap, tidak boleh membiarkan diri kita dimanipulasi, dan harus tetap waspada agar sebagai sebuah aliansi, kita dapat segera merespons setiap provokasi."
Sikorski kemudian menegaskan bahwa Rusia saat ini belum memiliki kemampuan militer yang cukup untuk menyerang NATO dalam skala besar.
"Rusia tidak memiliki kekuatan militer yang cukup untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap NATO. Seluruh kekuatan militernya masih dikerahkan di Ukraina," kata Sikorski seperti dikutip AFP.
Baca Juga: Kemenhaj Ungkap Instruksi Prabowo untuk Cari Formula Antrean Haji Lebih Pendek
Meski demikian, Sikorski memperkirakan Moskow dapat mengambil langkah dalam skala yang lebih kecil. Menurutnya, tindakan semacam itu berpotensi menimbulkan perbedaan pandangan di antara negara-negara anggota NATO.
Ia menjelaskan, Kremlin dapat memperoleh keuntungan apabila terjadi insiden yang memicu perpecahan di antara anggota NATO di Eropa dan Amerika Serikat, khususnya mengenai penerapan klausul pertahanan bersama yang tercantum dalam Pasal 5 NATO.
"Rusia mungkin akan melakukan tindakan yang selama ini sudah dilakukannya, tetapi dengan cara yang lebih agresif," tambahnya.
Pernyataan Sikorski disampaikan ketika ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa masih berlangsung akibat invasi Moskow ke Ukraina yang dimulai sejak 2022. Konflik tersebut hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, sementara intensitas serangan antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Ancaman yang dikaitkan dengan Rusia juga dinilai semakin meluas ke sejumlah negara Eropa, terutama kawasan bagian timur.
Sejumlah negara Barat menuduh Moskow melakukan aksi sabotase dan pelanggaran wilayah udara. Tindakan tersebut disebut sebagai bagian dari kampanye perang hibrida yang menyasar negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa.
Bendera-bendera Uni Eropa berkibar di markas di Brussel, Belgia, pada 23 Mei 2025 (Antara)