Ntvnews.id, Gaza - Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stephane Dujarric mengungkapkan bahwa pasokan air dari Israel ke Jalur Gaza telah dikurangi selama dua hari berturut-turut. Kondisi tersebut berdampak terhadap sekitar satu juta warga Palestina yang bergantung pada jaringan air dari Israel.
"Untuk hari kedua, sekitar satu juta orang di Gaza yang bergantung pada jaringan air Israel terkena dampak pengurangan pasokan air," kata Dujarric dalam konferensi pers, dikutip TRT World, Jumat, 4 September 2026.
Menurut Dujarric, keterbatasan air masih dirasakan warga Gaza meskipun sejumlah truk bantuan telah dikerahkan untuk mendistribusikan air kepada masyarakat.
"Distribusi air dari sumber lain dengan truk hanya sebagian menutupi kekurangan tersebut," ucapnya.
Selain persoalan pasokan air di Gaza, Dujarric menyoroti kekerasan yang masih berlangsung terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat.
PBB juga menerima laporan mengenai pengusiran seluruh warga dari komunitas Khirbet di Tabban oleh pasukan Israel.
Khirbet merupakan satu dari 13 komunitas penggembala yang berada di kawasan Masafer Yatta, Hebron. Wilayah tersebut ditetapkan oleh otoritas Israel sebagai "zona tembak" yang digunakan untuk kegiatan latihan militer.
"Selusin pos pemukim telah didirikan di wilayah tersebut selama dua tahun terakhir," ucap Dujarric.
Baca Juga: 2 Serangan Udara Israel Terbaru di Gaza Buat Korban Jiwa
Aktivitas pasukan dan pemukim Israel di Tepi Barat dilaporkan semakin meningkat sejak Israel melancarkan operasi militer di Gaza pada Oktober 2023.
Dalam perkembangannya, pos-pos permukiman ilegal didirikan di sejumlah wilayah. Jalan-jalan khusus juga dibangun untuk mendukung aktivitas pendudukan, sementara pergerakan warga Palestina semakin dibatasi.
Sementara itu, situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk. Israel disebut telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak.
Selain korban meninggal dunia, lebih dari 174.000 warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka akibat konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Seorang anak berada di antara puing bangunan akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Palestina (Antara)