Ntvnews.id, Rusia - Presiden Rusia Vladimir Putin menilai masih terbuka kemungkinan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis, 3 September 2026, di tengah harapan Ukraina agar proses perdamaian memasuki "dinamika baru".
Putin menyampaikan pandangan itu saat berpidato dalam Eastern Economic Forum (EEF). Ia menyebut sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan China, menunjukkan kesiapan untuk mendukung upaya penyelesaian konflik secara damai.
"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang berusaha berkontribusi pada penyelesaian ini. Apakah ada peluang? Menurut saya, ya, ada," kata Putin.
Meski optimistis, Putin menegaskan bahwa Rusia dan Ukraina tetap menjadi pihak utama yang harus menyelesaikan konflik tersebut.
"Pada akhirnya, masalah ini harus diselesaikan oleh negara-negara yang terlibat dalam konflik, Rusia dan Ukraina," ujar Putin.
Dari Kyiv, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha juga mengungkapkan harapannya terhadap adanya perkembangan baru dalam proses perdamaian. Menurutnya, aktivitas politik dan diplomatik di sejumlah negara mulai kembali meningkat.
"Saya yakin bahwa kini kita akan memiliki dinamika baru dalam upaya perdamaian, seiring kembalinya fase aktif keterlibatan politik dan diplomatik di banyak ibu kota di seluruh dunia," kata Sybiha kepada wartawan.
Sybiha tidak memaparkan secara rinci perkembangan yang dimaksud. Ia hanya meminta media menantikan informasi berikutnya.
Pernyataan bernada optimistis dari Putin dan Sybiha muncul setelah perang Rusia-Ukraina berlangsung sekitar empat setengah tahun.
Pertemuan terakhir antara Rusia dan Ukraina melalui perundingan yang dimediasi AS berlangsung pada Februari. Namun, setelah itu kedua negara justru meningkatkan serangan jarak jauh ke wilayah masing-masing.
Ketegangan juga terjadi di perairan setelah Rusia dan Ukraina saling menyerang pelabuhan serta kapal komersial. Situasi tersebut turut berdampak pada pasar komoditas dan mendorong kenaikan harga biji-bijian dunia.
Kontrak berjangka gandum di Chicago bahkan tercatat mengalami penurunan lebih dari 2% setelah Putin menyampaikan pernyataannya mengenai peluang kesepakatan damai.
Meski demikian, Putin maupun Sybiha tidak menjelaskan secara spesifik faktor yang membuat peluang kemajuan dalam perundingan kembali terbuka. Putin justru menyoroti sejumlah tindakan Ukraina yang menurutnya berpotensi menghambat proses perdamaian.
Baca Juga: Prabowo Bakal Bertemu Vladimir Putin
Putin menuduh Ukraina menyerang kapal sipil serta membahayakan pesawat penumpang. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai terorisme negara yang dapat memperumit prospek perundingan damai bilateral.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan maskapai penerbangan dan perusahaan asuransi bahwa aktivitas drone Ukraina membuat wilayah udara Rusia menjadi berisiko.
Namun, Zelenskyy menegaskan bahwa sasaran serangan Ukraina hanya fasilitas militer Rusia dan tidak ditujukan untuk membahayakan pesawat sipil.
Ukraina juga meminta badan penerbangan PBB mendorong negara-negara anggotanya menghentikan penerbangan di wilayah udara Rusia. Sementara itu, Ukraina sendiri telah menutup wilayah udaranya bagi penerbangan sipil internasional sejak Rusia melancarkan invasi pada 2022.
Putin mengungkapkan bahwa komunikasi antara Rusia dan Ukraina hingga kini masih berjalan. Namun, ia mengaku belum dapat memastikan apakah komunikasi tersebut akan menghasilkan kesepakatan damai.
"Sulit bagi saya untuk mengatakan saat ini sejauh mana kontak-kontak ini mengarah pada perjanjian damai, mengingat pernyataan-pernyataan yang baru-baru ini kami dengar dari pimpinan tertinggi Ukraina," katanya.
"Namun, kontak tersebut memang ada dan terus berlanjut secara berkelanjutan, sekali lagi, terutama melalui saluran intelijen," tambahnya.
Putin: Ukraina Kehilangan Hingga 12 Ribu Tentara Tiap Bulan (Antara)
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menyatakan kesiapan negaranya untuk ikut membantu mendorong proses perdamaian Rusia-Ukraina.
Jika India dapat membantu, dengan cara apa pun, kami siap," kata Jaishankar.
Perdana Menteri India Narendra Modi sebelumnya telah menyampaikan kepada Putin bahwa perang di Ukraina perlu diakhiri demi kepentingan kemanusiaan.
Modi juga menegaskan bahwa New Delhi siap mendukung berbagai upaya yang bertujuan menghentikan pertempuran dan mendorong berakhirnya konflik.
Vladimir Putin di Eastern Economic Forum (Istimewa)