Ntvnews.id, Yerusalem - Sebanyak 5.209 warga Israel dilaporkan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki selama Agustus 2026. Pada periode yang sama, dua warga Palestina tewas, sementara 114 orang lainnya ditahan oleh pasukan Israel.
Dilansir dari Anadolu, Kamis, 3 September 2026, data tersebut disampaikan Pemerintah Provinsi Yerusalem. Dalam laporan bulanannya, pemerintah provinsi menyebut terjadi peningkatan aktivitas warga Israel yang memasuki kompleks Al-Aqsa, termasuk pelaksanaan ritual keagamaan Yahudi di dalam maupun sekitar gerbang masjid.
Pemerintah Provinsi Yerusalem menyatakan polisi Israel memberikan pengawalan kepada warga Israel yang memasuki kawasan tersebut. Salah satu angka kunjungan harian tertinggi tercatat pada 13 Agustus, ketika sebanyak 751 orang masuk ke kompleks Al-Aqsa.
Selain itu, otoritas Israel menerbitkan lima perintah yang melarang warga Palestina memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. Polisi Israel sendiri telah mengizinkan warga Israel memasuki kawasan tersebut sejak 2003.
Departemen Wakaf Islam di Yerusalem menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsa merupakan tempat suci bagi umat Islam. Lembaga tersebut berulang kali menyerukan penghentian aksi masuk secara massal ke kompleks masjid.
Laporan Pemerintah Provinsi Yerusalem juga mencatat dampak operasi militer Israel terhadap warga Palestina. Selain dua orang tewas, sebanyak 83 warga Palestina mengalami luka-luka dan 114 orang ditahan, termasuk lima anak-anak.
Baca Juga: Delapan Negara Kecam Keras Serangan Pemukim Israel ke Kompleks Masjid Al-Aqsa
Dalam periode yang sama, pemerintah provinsi mencatat sedikitnya 44 serangan yang menyasar warga Palestina maupun properti milik mereka.
Otoritas juga mendokumentasikan 40 operasi pembongkaran dan pembersihan lahan yang menyasar rumah, bangunan, serta tanah di wilayah Yerusalem.
Tidak hanya itu, sebanyak 86 pemberitahuan dan perintah pembongkaran maupun penghentian pembangunan dikeluarkan otoritas Israel selama Agustus.
Situasi tersebut berlangsung ketika sejumlah media Israel melaporkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diduga berupaya meningkatkan ketegangan untuk memperoleh dukungan dari partai-partai sayap kanan menjelang pemilihan Knesset yang dijadwalkan pada 27 Oktober.
Warga Palestina menilai kebijakan Israel merupakan bagian dari upaya mengubah karakter dan identitas Yerusalem Timur, termasuk kawasan Masjid Al-Aqsa. Mereka menuduh Israel berusaha menjadikan Yerusalem yang diduduki sebagai wilayah yang hanya diperuntukkan bagi orang Yahudi serta menghilangkan identitas Arab dan Islam di kawasan tersebut.
Di sisi lain, warga Palestina tetap mempertahankan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina yang mereka cita-citakan.
Sementara itu, penggerebekan dan penangkapan oleh pasukan Israel masih berlangsung di berbagai kota, permukiman, serta kamp pengungsi di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem.
Aksi kekerasan terhadap warga Palestina dan properti mereka juga dilaporkan meningkat sejak pecahnya perang Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023.
Umat ??Islam Palestina berkumpul untuk memasuki Masjid Al-Aqsa saat dibuka kembali untuk ibadah di Kota Tua Yerusalem Timur, Kamis (9/4/2026). (ANTARA FOTO/Anadolu Agency/Mostafa Alkharouf/nym) (Antara)