Mantan Jenderal Israel Sebut Kekerasan Pemukim di Tepi Barat sebagai Pembersihan Etnis

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Sep 2026, 15:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Sejumlah mantan pejabat tinggi militer dan keamanan Israel mengecam aksi kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Mereka bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai bagian dari upaya “pembersihan etnis”.

Mantan Brigadir Jenderal Ephraim Sneh menyampaikan kritik itu setelah mengunjungi sejumlah komunitas Palestina. Dalam kunjungan tersebut, ia melihat langsung dampak serangan pemukim, termasuk kekerasan terhadap petani dan penggembala serta pengambilalihan lahan yang digunakan untuk menggembala.

“Ini adalah pembersihan etnis, sederhananya,” kata Sneh, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan Israel, seperti dilaporkan The New York Times.

Kecaman serupa disampaikan mantan Mayor Jenderal Eyal Ben-Reuven. Ia menilai tindakan para pemukim Israel di Tepi Barat telah menjadi ancaman serius bagi negaranya.

“Apa yang dilakukan para pemukim di sini adalah ancaman nyata bagi Israel,” ujarnya, dikutip dari TRT World, Selasa, 1 September 2026.

Situasi tersebut juga terjadi di kawasan Lembah Yordan. Sejumlah serbuan dan penggerebekan pada malam hari dilaporkan membuat komunitas Badui, termasuk Hamamat al-Maleh, terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.

Kritik dari para mantan pejabat tersebut muncul setelah lebih dari 200 tokoh Israel menandatangani surat pada Juni lalu. Mereka terdiri dari dua mantan perdana menteri, lebih dari 30 pensiunan jenderal, serta mantan kepala badan intelijen.

Baca Juga: Pemprov DKI Gelar JITEX 2026, Targetkan Transaksi Rp16 Triliun

Dalam surat itu, mereka mendesak agar aksi yang mereka sebut sebagai “terorisme Yahudi” dan “pembersihan etnis” di Tepi Barat dihentikan.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel sekaligus Menteri Pertahanan Moshe Ya'alon juga mengecam ideologi ekstrem yang dinilai mendorong aktivitas pemukiman. Sementara itu, pensiunan Jenderal Angkatan Udara Asaf Agmon memperingatkan dampak serius apabila masyarakat membiarkan tindakan tersebut terus berlangsung.

Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikutip The New York Times, ribuan serangan oleh pemukim Israel telah terjadi di Tepi Barat sejak Oktober 2023.

Sepanjang 2026, lebih dari 3.200 warga Palestina dilaporkan terpaksa mengungsi akibat serangan pemukim. Jumlah tersebut sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan angka pengungsian akibat serangan serupa pada tahun sebelumnya.

HIGHLIGHT

x|close