Media Israel Ejek Ancaman Trump ke Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Agu 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan sebagai bagian dari KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Media Israel menyoroti sekaligus mengejek pola pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berulang kali mengancam Iran. Ancaman tersebut dinilai hanya sebatas gertakan karena Trump disebut beberapa kali mengeluarkan peringatan keras, tetapi kemudian memilih menahan diri.

Konflik Amerika Serikat dan Iran kini telah memasuki bulan keenam. Namun, hingga saat ini belum terlihat indikasi kuat bahwa ketegangan tersebut akan segera berakhir.

Trump diketahui berkali-kali menyampaikan ancaman terhadap Iran dengan tujuan menghancurkan serta melemahkan kekuatan negara tersebut. Peringatan itu bukan hanya disampaikan sekali atau dua kali, melainkan telah berulang kali muncul selama konflik.

Media Israel, Times of Israel, kemudian mengulas gaya Trump dalam melontarkan ancaman tersebut dan menyoroti kecenderungannya untuk mengeluarkan pernyataan keras sebelum akhirnya mengubah sikap.

"Selama konflik berlangsung, ada beberapa momen ketika Trump menunjukkan kecenderungannya untuk bersikap agresif, hanya untuk kemudian mundur di menit-menit terakhir, sambil menyatakan bahwa ancamannya justru memicu kemajuan," tulis media tersebut.

Pada awal April, Amerika Serikat dan Iran menyetujui gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan itu diumumkan kurang dari dua jam sebelum tenggat yang diberikan Trump kepada Teheran untuk menyerah atau menghadapi serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik.

Trump sebelumnya memperingatkan bahwa serangan tersebut akan begitu dahsyat hingga "seluruh peradaban akan mati."

Setelah berhari-hari melontarkan ancaman keras kepada Iran, Trump pada 18 Mei mengumumkan penundaan serangan militer besar yang sebelumnya direncanakan. Ia beralasan "negosiasi serius" sedang berlangsung dan mengungkapkan apresiasinya kepada negara-negara sekutu di kawasan Teluk yang disebut berhasil mendorongnya untuk menahan diri.

Baca Juga: Trump Desak Perusahaan Minyak AS Turunkan Harga BBM

Pada Juni, Trump kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Ia mengatakan akan menyerang negara tersebut "sangat keras" dan bahkan mengancam merebut Pulau Kharg yang menjadi salah satu pusat energi Iran.

Trump melalui media sosial menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk "mengambil kendali penuh atas Pasar Minyak dan Gas mereka." Namun, ancaman itu kembali dibatalkan dalam unggahan berikutnya setelah Trump mengklaim bahwa pembicaraan damai dengan sejumlah pejabat senior Iran menunjukkan perkembangan.

Menurut Times of Israel, episode terbaru bermula pada Jumat ketika Trump tampil bersama jajaran kabinetnya. Dalam kesempatan tersebut, ia menyatakan "kehilangan kepercayaan" terhadap proses negosiasi dengan Iran dan memperingatkan bahwa militer Amerika Serikat "akan menyerang mereka dengan sangat keras."

Trump juga menilai operasi militer AS sebelumnya telah berhasil menghancurkan sebagian struktur kepemimpinan Iran serta melumpuhkan kekuatan udara dan laut negara tersebut.

Di sisi lain, Iran disebut bertaruh dapat bertahan lebih lama dibandingkan Trump. Teheran dinilai berharap Presiden AS tersebut menghadapi keterbatasan persediaan amunisi dan tekanan politik akibat perang yang tidak populer di kalangan pemilih Amerika menjelang pemilu paruh waktu November.

Beberapa jam setelah pernyataan Trump, sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt kembali memperbesar kekhawatiran mengenai kemungkinan serangan. Ia menegaskan bahwa "Iran akan terus membayar sampai mereka mau bernegosiasi dengan cara yang, menurut Presiden Trump, bermakna."

Namun, sikap Trump kembali berubah pada hari berikutnya. Ia memilih memberikan tambahan waktu bagi jalur diplomasi yang melibatkan pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.

Perubahan sikap tersebut juga disebut dipengaruhi oleh para pemimpin negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, yakni Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

"Itu akan menjadi bencana bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kita melakukannya," kata Trump tentang Iran saat berbicara kepada wartawan dalam perjalanan kembali ke Washington dari akhir pekan di klub golfnya di New Jersey. "Dan terus terang, Arab Saudi juga tidak menginginkannya. Mereka mengira kesepakatan sudah dekat."

Meski demikian, sejumlah kritikus menilai keraguan Trump untuk kembali melakukan serangan mungkin menunjukkan adanya kesadaran di dalam pemerintahannya bahwa kekuatan militer Amerika Serikat saja belum tentu cukup untuk memaksa Iran menyerah dan menghentikan perang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Perkembangan tersebut juga dinilai berbeda dari gambaran awal Trump yang sebelumnya meremehkan konflik sebagai operasi singkat yang hanya berlangsung beberapa pekan.

"Saya pikir apa yang kita lihat di sini adalah seorang presiden yang memiliki pendekatan yang agak tidak menentu," kata Senator Mark Kelly, anggota Partai Demokrat dari Arizona yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata Senat, dalam acara "Face the Nation" CBS News.

"Saat ini, dia mencoba membawa kita kembali ke bulan Februari. Dan saya pikir jika dia bisa-jika dia memiliki tombol reset besar yang bisa dia tekan-dia pasti akan mengambil opsi itu."

TERKINI

Media Israel Ejek Ancaman Trump ke Iran

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 07:00 WIB

Zelensky Copot Dubes Ukraina untuk AS, Ada Apa?

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 06:45 WIB

Tentara Rusia Tembak Rekan dan Warga Sipil, 4 Tewas

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 06:20 WIB

3 Singa di Kebun Binatang Mati Diduga Akibat Gelombang Panas

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 06:15 WIB

Iran Sasar Pusat Data AI di Timur Tengah, Ekonomi AS Tertekan

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 05:50 WIB

Qatar Sebut Negosiasi AS-Iran Makin Maju

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 05:10 WIB

Gelombang Panas Ekstrem di Korea Selatan Tewaskan 16 Orang

Luar Negeri Rabu, 5 Agu 2026 | 05:08 WIB
Load More

HIGHLIGHT

x|close