Trump Konfirmasi Negoisasi dengan Iran akan Segera Digelar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Agu 2026, 14:02
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan saat KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan saat KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Rencana serangan militer skala besar Amerika Serikat terhadap Iran yang semula dijadwalkan pada hari Jumat mendadak dibatalkan. Keputusan tak terduga ini diambil setelah Presiden AS Donald Trump mendapat desakan dari berbagai negara di kawasan Timur Tengah untuk mengedepankan jalur diplomasi.

Sebagai gantinya, perundingan intensif antara Washington dan Teheran dipastikan bergulir pada Senin sore waktu setempat. Trump meyakini bahwa titik temu terkait polemik Selat Hormuz sekaligus program nuklir Iran dapat segera direalisasikan.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh sang Presiden saat berbicara kepada awak media di dalam pesawat Air Force One pada hari Minggu (2/8). Diskusi mendalam dengan pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, beserta pihak Iran sendiri, diakui menjadi faktor penentu ditariknya rencana operasi militer tersebut.

"Kami diminta oleh tiga kelompok utama. Kami juga menerima permintaan yang sangat kuat dari Iran, bahwa mereka ingin mencapai kesepakatan" ungkap Trump mengonfirmasi.

Baca juga:Pilot Asal Amerika Serikat Tewas Ditembak, Jenazah Berhasil Dievakuasi dari Yahukimo

Desakan untuk menahan diri rupanya tidak hanya datang dari negara target, tetapi juga para tetangganya di kawasan tersebut.

"Serangan itu akan menjadi operasi besar-besaran. Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya. Mereka berkata, tolong jangan lakukan itu. Negara-negara tetangga mereka juga menyampaikan hal yang sama," lanjutnya.

Arab Saudi, sebagai salah satu sekutu strategis AS di Timur Tengah, turut menaruh harapan besar pada penyelesaian tanpa kekerasan senjata. Keyakinan akan adanya solusi damai kini tampak semakin menguat.

"Mereka meyakini bahwa kesepakatan sudah semakin dekat, terutama terkait Selat Hormuz dan pada akhirnya menyangkut denuklirisasi," jelas Trump.

Baca juga:Trump Batalkan Rencana Serangan ke Iran, Kenapa?

Meski sinyal damai mulai terlihat, orang nomor satu di Amerika Serikat itu enggan mematok batas waktu pasti mengenai kapan kesepakatan final harus rampung.

"Kita lihat saja nanti," jawabnya singkat saat ditanya perihal tenggat waktu negosiasi.

Kendati membuka pintu dialog lebar-lebar, opsi militer belum sepenuhnya dicoret dari meja perundingan. Washington menegaskan kesiapannya untuk kembali mengerahkan kekuatan bersenjata apabila situasi memaksa.

"Saya lebih memilih mencapai kesepakatan. Saya tidak ingin membunuh orang karena banyak nyawa akan melayang dan kami tidak menginginkannya," tegas Trump.

Apabila serangan masif yang sempat direncanakan itu benar-benar dieksekusi, dampaknya diprediksi akan sangat menghancurkan, bahkan butuh waktu bertahun-tahun bagi Iran untuk memulihkan diri. Namun, ketika dicecar pertanyaan apakah infrastruktur energi milik Teheran masuk dalam daftar target operasi, Trump memilih bungkam dan menolak memberikan rincian lebih lanjut.

Baca juga:Baru Dilantik Jadi PM Inggris, Andy Burnham Langsung Telepon Donald Trump

(Sumber:Antara)

HIGHLIGHT

x|close