Ntvnews.id, Jakarta - Militer Amerika Serikat (AS) resmi melancarkan serangan terhadap Iran setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya menegaskan akan membalas serangan Teheran dengan tindakan yang sangat keras. Operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap pasukan AS yang berada di Yordania.
"Pasukan AS mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada pukul 8 malam ET hari ini," kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X, dilansir CNN, Kamis (30/7/2026).
"Serangan tersebut merupakan respons yang kuat terhadap upaya serangan Iran kemarin terhadap pasukan AS yang berbasis di Timur Tengah," sambungnya.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada CNN bahwa operasi tersebut menyasar target-target militer Iran. Serangan ini menjadi realisasi dari peringatan yang sebelumnya disampaikan Trump usai Iran menyerang pasukan AS.
"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kita untuk menyerang mereka. Mereka tahu itu akan datang," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval pada hari Rabu.
Baca Juga: Skandal Ekspor Durian, Wakil Menteri Pertanian Vietnam Ditahan dalam Kasus Dugaan Suap
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS pada Selasa malam. Militer Yordania menyatakan telah berhasil mencegat lima rudal yang ditembakkan tersebut.
Di sisi lain, media Iran mulai melaporkan dampak dari serangan militer AS. Mengutip Al Jazeera yang mengutip laporan Iran Press TV, ledakan terdengar di sejumlah lokasi di wilayah selatan Iran setelah serangan dilancarkan.
Laporan serupa juga disampaikan kantor berita Tasnim yang menyebut sedikitnya tiga ledakan terdengar di Pulau Qeshm, termasuk di kawasan dalam kota. Warga setempat mengaku sebuah rudal menghantam area permukiman, namun hingga kini belum ada informasi resmi mengenai korban jiwa.
Selain itu, penyiar nasional Iran, IRIB, melaporkan ledakan juga terdengar di Provinsi Bushehr, wilayah yang menjadi lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir di Iran.
Arsip - Asap membubung setelah ledakan menghantam wilayah timur laut, barat, dan pusat di tengah serangan Israel di Teheran, Iran, pada Rabu, 1 April 2026. (Antara)