Militer AS Kehabisan Opsi untuk Menekan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Agu 2026, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Miniatur bendera Amerika Serikat dan Iran. Ilustrasi - Miniatur bendera Amerika Serikat dan Iran. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Amerika Serikat (AS) disebut mulai menghadapi keterbatasan pilihan untuk memberikan tekanan terhadap Iran di tengah konflik yang berlangsung di Timur Tengah. Kondisi tersebut terungkap setelah seorang perwira senior militer AS mengirimkan surat elektronik kepada sejumlah analis militer untuk meminta gagasan mengenai strategi baru.

"Kami sedang mencari cara-cara baru yang kreatif dan tidak konvensional untuk menekan dan menghukum Iran," bunyi pesan perwira senior tersebut, menurut sumber yang mengetahui isi pesan itu kepada CNN International, dikutip Selasa, 4 Agustus 2026.

Informasi mengenai pesan tersebut juga dibenarkan oleh sumber kedua. Menurutnya, permintaan itu disampaikan pada pekan lalu ketika Washington menghadapi kebuntuan dalam menentukan langkah untuk menghadapi Teheran.

Sumber tersebut mengatakan Komando Pusat AS (CENTCOM) menyadari perlunya peninjauan ulang terhadap strategi yang selama ini diterapkan dalam menghadapi Iran.

Sejumlah pejabat militer AS menyebut permintaan masukan melalui surat elektronik seperti itu bukan sesuatu yang lazim. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai semakin terbatasnya pilihan yang tersedia bagi Presiden AS Donald Trump, termasuk opsi-opsi yang berpotensi tidak mudah untuk dijalankan.

Baca Juga: Trump Konfirmasi Negoisasi dengan Iran akan Segera Digelar

CENTCOM telah memberikan tanggapan terkait pesan tersebut. Juru bicara CENTCOM Kapten Timothy Hawkins mengatakan institusinya memiliki rekam jejak panjang dalam mengembangkan pemikiran dan tindakan "dengan cara-cara inovatif."

"(Komandan CENTCOM) Laksamana (Brad) Cooper, khususnya, menghubungi anggota-anggota tim hebat kami, tanpa memandang pangkat, untuk mencapai tingkat kinerja operasional tertinggi," ujar Hawkins dalam sebuah pernyataan.

Surat elektronik dari militer AS tersebut dikirim sebelum Trump kembali melontarkan ancaman untuk melakukan serangan terhadap Iran. Ancaman itu kemudian urung dilaksanakan setelah sejumlah pemimpin Timur Tengah, termasuk Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS), menghubungi Trump dan meminta agar ketegangan diturunkan.

Menurut dua sumber yang memahami perencanaan militer AS, Washington sebelumnya telah mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Gunung Pickaxe serta sejumlah lokasi di Iran yang diduga menyimpan material atau perangkat terkait program nuklir.

Akan tetapi, kedua sumber tersebut menyebut serangan menggunakan persenjataan konvensional paling kuat milik AS sekalipun diperkirakan tidak cukup untuk menghancurkan fasilitas-fasilitas tersebut. Pasalnya, sejumlah fasilitas yang menjadi sasaran berada jauh di bawah permukaan tanah.

Ilustrasi - Rudal Iran. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Rudal Iran. (Antara)

Untuk menghancurkan target secara menyeluruh, AS kemungkinan harus mengerahkan pasukan darat. Namun, Trump disebut tidak bersedia mengambil risiko besar tersebut, terutama di tengah tekanan publik agar pemerintahannya lebih terbuka mengenai jumlah korban dari pihak militer.

Sejauh ini, sebanyak 18 tentara AS dilaporkan meninggal dunia dalam pertempuran.

Menurut sumber lainnya, Trump kini juga mempertimbangkan opsi serangan yang menyerupai pertunjukan "kembang api". Serangan tersebut dapat diarahkan ke lokasi yang sama atau target serupa dengan sasaran yang pernah dihantam AS setahun sebelumnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan kemenangan simbolis bagi Washington sehingga Trump memiliki ruang untuk mengakhiri perang tanpa harus memenuhi tujuan awal yang dicanangkan, yakni melumpuhkan program nuklir Iran.

Jika skenario tersebut benar-benar dijalankan, salah satu persoalan utama dalam konflik Iran diperkirakan masih belum terselesaikan, terutama terkait klaim Iran terhadap Selat Hormuz.

"Pada akhirnya, Presiden AS akan menginginkan kesepakatan, jadi dia akan terus mencari cara untuk bersikap tegas dan keluar dari situasi ini," kata salah satu sumber yang mengetahui diskusi perencanaan baru-baru ini.

"Anda butuh pikiran-pikiran kreatif di saat-saat tertentu, terutama jika Anda kehabisan pilihan konvensional," lanjutnya.

Baca Juga: MBS Telepon Trump, Desak AS Batalkan Rencana Serangan ke Iran

Sementara itu, Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Badan Intelijen Pertahanan (DIA) disebut telah menyimpulkan bahwa serangan udara AS dalam bentuk apa pun tidak akan mengubah sikap Iran dalam proses negosiasi.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, yang merupakan penasihat militer paling senior bagi presiden, juga secara terbuka mengakui bahwa serangan udara saja kemungkinan tidak mampu mencapai seluruh target yang sebelumnya ditetapkan Trump sebagai tujuan perang.

"Kekuatan udara memiliki batasnya," kata Caine kepada para anggota parlemen bulan lalu.

Selama berbulan-bulan, berbagai opsi untuk meningkatkan tekanan dan eskalasi terhadap Iran telah diajukan kepada Trump dan melalui pembahasan panjang. Sejumlah aset militer AS juga telah dikerahkan ke Timur Tengah sebagai persiapan apabila Trump memberikan persetujuan.

Beberapa pejabat AS mengungkapkan bahwa salah satu rencana yang dirancang CENTCOM mencakup serangkaian serangan udara berskala besar selama satu hingga dua pekan. Tujuannya adalah melemahkan kemampuan rudal Iran.

Namun, Trump hingga kini masih menahan diri. Salah satu pertimbangannya adalah kekhawatiran yang disampaikan Caine mengenai semakin menipisnya persediaan rudal pencegat milik AS.

Pejabat lainnya juga memperingatkan risiko jatuhnya banyak korban sipil apabila Trump merealisasikan ancaman untuk menyerang infrastruktur penting seperti jembatan dan fasilitas desalinasi air.

Trump sebenarnya memiliki pilihan untuk meningkatkan eskalasi melalui pengerahan pasukan darat. Namun, langkah tersebut berpotensi bertentangan dengan janji yang pernah disampaikannya saat kampanye:

"Saya tidak akan mengirim Anda untuk berperang dan mati dalam perang asing bodoh yang tidak pernah berakhir."

TERKINI

Militer AS Kehabisan Opsi untuk Menekan Iran

Luar Negeri Selasa, 4 Agu 2026 | 08:15 WIB

Desus Hubungan Trump-Netanyahu Retak

Luar Negeri Selasa, 4 Agu 2026 | 08:05 WIB

China Berlakukan UU Persatuan Etnis, Apa Dampaknya?

Luar Negeri Selasa, 4 Agu 2026 | 07:45 WIB

Iran Eksekusi Mati 2 Pria yang Jadi Mata-mata Israel

Luar Negeri Selasa, 4 Agu 2026 | 07:35 WIB

Kedubes Iran Tegaskan Program Nuklir untuk Tujuan Damai

Luar Negeri Selasa, 4 Agu 2026 | 07:25 WIB
Load More

HIGHLIGHT

x|close