Ultimatum Iran, Trump: Kesempatan Terakhir Sebelum 'Pemenggalan'

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Agu 2026, 15:47
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan saat KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan saat KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ingin memberikan Iran kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan sebelum mengambil tindakan yang disebutnya sebagai "pemenggalan". Trump juga kembali menyatakan bahwa pembicaraan antara Washington dan Teheran masih berlangsung, meski klaim tersebut telah dibantah oleh pemerintah Iran.

Dilansir dari Anadolu, Selasa, 4 Agustus 2026, pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Senin, 3 Agustus 2026 waktu setempat. Dalam kesempatan tersebut, Trump kembali menyebut Iran sebagai pihak yang meminta agar dialog dengan AS diteruskan.

"Iran tidak ingin diserang, dan mereka bilang ingin berdialog. Kami sedang berdialog atas permintaan Iran, yang didukung oleh Arab Saudi, UEA (Uni Emirat Arab), dan khususnya Qatar, serta pihak-pihak lain juga," kata Trump dalam pernyataannya.

Trump kemudian mengatakan bahwa kesempatan yang diberikan kepada Iran merupakan yang terakhir untuk mencapai kesepakatan.

"Ini kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen yang bagus," sebutnya.

"Saya ingin memberikan kesempatan terakhir kepada mereka sebelum pemenggalan," ucap Presiden AS itu, tanpa menjelaskan lebih lanjut soal apa yang dimaksud dengan "pemenggalan" tersebut.

Trump selanjutnya menegaskan bahwa komunikasi antara AS dan Iran "sedang berlangsung saat ini". Menurutnya, Teheran kerap menyangkal adanya dialog dengan Washington meskipun pembicaraan tetap berjalan.

Baca Juga: Trump Digugat 25 Negara Bagian AS terkait Kebijakan Tarif Impor

"Ketika mereka berdialog, mereka tidak suka mengakuinya... Kita sedang berdialog, dan terkadang mereka menyangkalnya, padahal mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara satu sama lain," ujarnya.

Trump menjelaskan bahwa proses perundingan tersebut akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap awal akan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz, sementara tahap berikutnya berfokus pada kemampuan nuklir Iran.

"Kita sedang berdialog tentang Selat itu, pembukaan Selat tersebut, agar benar-benar terbuka paling cepat besok, terbuka sepenuhnya, dan itulah tahap pertama. Dan selanjutnya pada tahap kedua, kita akan membahas kemampuan nuklir mereka," tuturnya.

Ketika ditanya mengenai lokasi perundingan, Trump menyebut tempatnya akan ditentukan "hari ini atau besok". Ia juga mengatakan proses negosiasi tersebut akan berlangsung dalam waktu singkat.

Pemerintah Iran sebelumnya telah membantah pernyataan Trump. Teheran menegaskan bahwa tidak ada proses negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat.

"Kami tidak sedang melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat," tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers.

Baghaei menambahkan bahwa Iran saat ini berkomunikasi dengan Oman untuk merancang "jalur sementara" di Selat Hormuz. Langkah tersebut ditujukan untuk memastikan keselamatan pelayaran di kawasan tersebut.

HIGHLIGHT

x|close