Ntvnews.id, Moskow - Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) berpotensi menimbulkan ancaman eksistensial bagi umat manusia sehingga diperlukan langkah penanganan sedini mungkin.
Peringatan tersebut disampaikan Turk dalam sesi ke-63 Dewan HAM PBB pada Senin, 7 September 2026.
"Saya sependapat dengan kekhawatiran para pelaku industri bahwa AI canggih dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi umat manusia ... Saya menyerukan upaya habis-habisan untuk memastikan jaminan kuat atas keselamatan dan keamanan AI sebelum terlambat," kata Turk, menurut keterangan kantornya.
Turk mengatakan dirinya akan mengirimkan surat kepada seluruh perusahaan pengembang AI terkemuka dalam beberapa hari ke depan untuk membahas persoalan tersebut.
Ia juga menyoroti adanya kondisi ketika hanya segelintir orang yang memiliki "kekuasaan hampir tidak terbatas atas AI."
Baca Juga: PBB Adopsi Resolusi Correct the Map, Dorong Peta Dunia Lebih Akurat
Menurut Turk, diperlukan kesepakatan bersama mengenai batasan dalam pengembangan dan penggunaan AI, terutama dengan melibatkan negara-negara yang menjadi lokasi pengembangan teknologi tersebut serta negara yang berada dalam rantai pasoknya.
"Setidaknya, kita membutuhkan negara-negara tempat AI dikembangkan dan negara-negara yang terlibat dalam rantai pasoknya untuk bersama-sama menyepakati batas-batas yang tidak boleh dilanggar," kata Turk.
Kekhawatiran mengenai potensi AI sebagai ancaman juga sebelumnya disampaikan pejabat PBB lainnya.
Pada Desember 2025, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik Program Pembangunan PBB (UNDP) Philip Schellekens memperingatkan bahwa pemanfaatan AI untuk kepentingan militer dapat menjadi ancaman eksistensial bagi manusia dan berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Schellekens menegaskan pentingnya penerapan regulasi yang sangat bertanggung jawab untuk mengendalikan pemanfaatan AI dalam sektor militer.
Baca Juga: Hak Cipta Berita dan Artificial Intelligence: Tantangan Baru di Era Digital
Sementara itu, pada Januari 2025, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga memperingatkan bahwa AI yang tidak terkendali dapat menjadi ancaman eksistensial, selain perubahan iklim dan senjata nuklir.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) (Antara)