PBB Adopsi Resolusi Correct the Map, Dorong Peta Dunia Lebih Akurat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 7 Sep 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
PBB PBB (Istimewa)

Ntvnews.id, New York - Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan sebuah resolusi yang mendorong penggunaan peta dunia dengan ukuran negara dan benua yang lebih sesuai dengan kondisi geografis sebenarnya.

Resolusi yang diberi nama Correct the Map tersebut memperoleh dukungan luas dari negara-negara anggota PBB. Sebanyak 164 negara menyatakan setuju, enam negara memilih abstain, sedangkan Amerika Serikat (AS) menjadi satu-satunya negara yang menolak resolusi tersebut.

Dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 7 September 2026, resolusi itu diajukan oleh sejumlah negara anggota Uni Afrika (AU) bersama Bahama. Tujuan utamanya adalah mendorong representasi dunia dalam peta yang dinilai lebih adil dan proporsional, khususnya dalam menggambarkan benua Afrika.

Dalam resolusi tersebut, PBB menyoroti persoalan ketidakseimbangan ukuran wilayah pada sejumlah peta dunia yang selama ini banyak digunakan. Salah satu penyebabnya adalah penerapan proyeksi Mercator yang dinilai dapat memengaruhi cara masyarakat memahami ukuran dan posisi geografis suatu wilayah.

PBB menyebut ketidakproporsionalan tersebut telah memberikan pengaruh dalam jangka panjang terhadap persepsi masyarakat, pendidikan, kebudayaan, geopolitik, hingga kondisi sosial ekonomi.

Menurut dokumen resolusi tersebut, gambaran yang tidak sesuai dengan luas sebenarnya juga berkontribusi terhadap peminimalan simbolis Afrika serta sejumlah wilayah lainnya dalam pandangan masyarakat global.

Baca Juga: Pramono Temukan 26.247 Penerima KJP Punya Mobil hingga PBB Rp1 Miliar

Proyeksi Mercator merupakan sistem pemetaan yang dikembangkan oleh kartografer asal Flandria, Gerardus Mercator, pada 1569.

Sistem pemetaan tersebut memiliki karakteristik berupa semakin besarnya tampilan suatu wilayah yang posisinya semakin jauh dari garis khatulistiwa. Akibatnya, wilayah yang berada di kawasan lintang tinggi terlihat jauh lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.

Salah satu contoh yang sering digunakan untuk menjelaskan persoalan tersebut adalah perbandingan antara Greenland dan Afrika. Dalam peta dengan proyeksi Mercator, Greenland dapat terlihat memiliki ukuran yang hampir menyerupai Afrika.

Padahal, secara luas wilayah, Afrika memiliki area sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Kondisi itu kemudian memunculkan kritik terhadap proyeksi Mercator. Para pengkritiknya menilai sistem tersebut cenderung bersifat Eurocentris karena membuat Eropa dan sejumlah wilayah di belahan bumi utara tampak lebih besar dibandingkan ukuran sebenarnya.

Penggambaran semacam itu dinilai berpotensi membentuk persepsi bahwa negara-negara Barat memiliki posisi yang lebih dominan atau superior dibandingkan kawasan lainnya.

Fenomena tersebut bahkan oleh sebagian pihak disebut sebagai “kolonialisme kartografis”.

PBB Dorong Penggunaan Equal Earth

Retakan di Benua Afrika <b>(Istimewa)</b> Retakan di Benua Afrika (Istimewa)

Melalui resolusi Correct the Map, PBB mendorong penggunaan proyeksi Equal Earth, sebuah sistem pemetaan yang diperkenalkan pada 2018.

Berbeda dengan proyeksi Mercator, Equal Earth dirancang untuk mempertahankan perbandingan luas permukaan suatu wilayah agar lebih proporsional. Dengan demikian, ukuran negara dan benua yang ditampilkan di peta dapat lebih mendekati luas geografis sebenarnya.

Resolusi tersebut juga mengajak pemerintah, organisasi internasional, lembaga pendidikan, serta berbagai pihak terkait untuk meningkatkan penggunaan peta dengan sistem equal-area atau proyeksi yang mempertahankan proporsi luas wilayah.

Selain itu, perusahaan dan platform teknologi didorong untuk melakukan dialog bersama negara-negara anggota PBB serta organisasi regional mengenai penerapan peta yang mampu menggambarkan luas wilayah secara lebih akurat.

Pengesahan resolusi ini menjadi bagian dari kampanye yang dilakukan sejumlah negara Afrika untuk mendorong perubahan terhadap cara benua Afrika digambarkan dalam peta dunia yang banyak digunakan selama ini.

Uni Afrika sebelumnya telah mendukung gerakan Correct the Map. Organisasi tersebut menilai penggunaan proyeksi Mercator selama ini dapat menyebabkan kesalahpahaman mengenai skala geografis Afrika dibandingkan wilayah lain di dunia.

Meski telah memperoleh dukungan mayoritas anggota PBB, resolusi Correct the Map tidak bersifat mengikat secara hukum. PBB juga tidak menetapkan larangan terhadap penggunaan proyeksi Mercator.

Resolusi tersebut lebih berfungsi sebagai dorongan kepada negara, institusi pendidikan, organisasi internasional, dan berbagai platform untuk mempertimbangkan penggunaan sistem pemetaan yang dinilai mampu memberikan gambaran luas wilayah secara lebih proporsional.

x|close