Houthi Terus Serang Arab Saudi, Ancam Perluas Operasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Sep 2026, 08:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham Arsip foto - Seorang pengunjuk rasa memegang model rudal Houthi selama protes terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza serta sanksi yang dipimpin AS terhadap kelompok Houthi di Sanaa, Yaman (16/2/2024). ANTARA/Xinhua/Mohammed Moham (Antara)

Ntvnews.id, Riyadh - Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengaku telah melancarkan serangan besar menggunakan rudal dan drone ke wilayah Arab Saudi pada Selasa, 8 September 2026. Kelompok tersebut juga memperingatkan akan memperluas serangannya hingga ke wilayah yang lebih dalam di kerajaan tersebut.

Dilansir dari Anadolu, Rabu, 9 September 2026, Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompoknya mengerahkan puluhan rudal balistik dan drone dalam operasi yang disebut berskala besar.

Menurut Saree, sejumlah fasilitas menjadi target serangan, termasuk fasilitas perusahaan minyak Aramco di Abha, Najran, dan Jizan serta Pangkalan Udara Khamis Mushait.

Ia mengklaim serangan dilakukan secara presisi dan langsung dan menimbulkan kerusakan besar pada fasilitas yang menjadi sasaran.

Saree menyebut serangan tersebut sebagai respons atas serangkaian serangan udara yang dilakukan Arab Saudi di Yaman. Ia mengeklaim Riyadh melancarkan 121 serangan udara dalam tiga hari terakhir ke sejumlah wilayah, yakni Marib, Al-Bayda, Al-Hudaydah, Taiz, dan Al-Jawf.

Baca Juga: Serangan Houthi Lumpuhkan Pengoperasian Pelabuhan Mocha di Yaman

Houthi juga menuduh Arab Saudi melakukan serangan terhadap Penjara Pusat Al-Hazm di Al-Jawf. Menurut kelompok tersebut, serangan itu mengakibatkan sejumlah narapidana dan pengunjung menjadi korban, termasuk perempuan dan anak-anak.

"Kami akan melanjutkan operasi jauh di dalam wilayah Saudi, menargetkan pembangunan militer mereka, dan mengonsolidasikan persamaan 'blokade untuk blokade' sampai agresi dihentikan dan blokade terhadap negara kami tercinta dicabut," kata Saree, dikutip dari Anadolu Agency.

Puluhan Warga Arab Saudi Dilaporkan Terluka

Klaim Houthi tersebut disampaikan beberapa jam setelah otoritas Arab Saudi melaporkan adanya rangkaian serangan yang menyasar Abha, Khamis Mushait, Jizan, dan Najran.

Serangan tersebut disebut menyebabkan sedikitnya 73 warga sipil terluka. Korban termasuk perempuan dan anak-anak.

Kementerian Energi Arab Saudi juga melaporkan terjadinya kebakaran di sejumlah fasilitas energi di bagian selatan negara tersebut. Aktivitas di beberapa fasilitas yang terkena dampak untuk sementara dihentikan.

Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa <b>(Antara)</b> Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa (Antara)

Juru bicara Koalisi Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, mengecam serangan Houthi sebagai eskalasi berbahaya. Ia mengatakan koalisi akan mengambil berbagai tindakan operasional yang diperlukan untuk mencegah serangan berikutnya sekaligus menetralisasi sumber ancaman.

Eskalasi terbaru terjadi di tengah klaim pasukan pemerintah Yaman mengenai kemajuan mereka di sejumlah medan pertempuran melawan Houthi. Perkembangan tersebut dilaporkan terjadi antara lain di Al-Jawf, Al-Bayda, Taiz, dan Al-Hudaydah.

Pemerintah Yaman sebelumnya juga mengumumkan rencana untuk merebut kembali ibu kota Sana'a yang telah berada di bawah kendali Houthi sejak 2014. Namun, pemerintah belum mengungkapkan secara terperinci mengenai rencana operasi tersebut.

Konflik di Yaman bermula ketika Houthi berhasil menguasai Sana'a pada 2014. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 dengan tujuan mendukung pemerintahan Yaman yang mendapat pengakuan internasional.

x|close