Ntvnews.id, Taheran - Iran melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat setelah sebuah serangan menghantam pesta pernikahan di wilayah selatan negara tersebut. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menyebut Amerika Serikat sebagai 'Setan' terkait insiden tersebut pada Rabu, 2 September 2026.
DIlansir dari AFP, Kamis, 2 September 2026, Pejabat Iran menyatakan sedikitnya empat orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang terjadi pada larut malam ketika pesta pernikahan berlangsung di Kuhestak, Iran selatan.
Ghalibaf mengatakan serangan tersebut turut menimbulkan korban dari kalangan anak-anak yang sedang berada bersama keluarganya.
Ghalibaf mengatakan serangan itu menyebabkan "anak-anak ikut menjadi korban bersama keluarga mereka."
Selain menyoroti serangan terhadap pesta pernikahan, Ghalibaf juga mengungkit sejumlah serangan mematikan lainnya yang terjadi di Iran pada fase awal konflik di Timur Tengah. Salah satunya adalah serangan yang menyasar sebuah sekolah di Minab.
Dalam pernyataannya melalui media sosial X, Ghalibaf kembali menggunakan istilah 'Setan' untuk menggambarkan Amerika Serikat dan menyebut Israel sebagai sekutu utamanya.
Baca Juga: Iran Ungkap Kembangkan Sistem Pertahanan Udara Baru yang Belum Dimiliki Negara Lain
"Jika suatu kekuatan bertindak seperti Setan, memilih sasaran seperti Setan, dan membunuh seperti Setan, maka itu adalah Setan. Melindungi Setan junior yang melakukan hal yang sama? Itu adalah Setan Besar," kata Ghalibaf dalam unggahan di X.
Istilah tersebut memiliki sejarah panjang dalam retorika politik Iran terhadap Washington. Pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, pertama kali menggunakan sebutan 'setan' untuk Amerika Serikat pada 1979. Para pemimpin Iran setelahnya juga terus memakai istilah tersebut ketika mengecam kebijakan Washington.
Sebagai respons terhadap serangan itu, Iran kemudian melancarkan serangkaian serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Sasaran yang disebut antara lain berada di Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, serta wilayah Kurdistan, Irak.
Militer Amerika Serikat tidak memberikan tanggapan secara langsung mengenai tuduhan bahwa serangan mereka menghantam pesta pernikahan tersebut.
Namun, juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Tim Hawkins, membantah bahwa pasukan AS sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran.
"Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC," kata Hawkins.
Arsip foto - Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf. /ANTARA/Anadolu Ajensi/pri. (Antara)