Iran Sebut Uni Eropa Korbankan Kedaulatan demi Dukung Sanksi AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Sep 2026, 15:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussels, Belgia Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussels, Belgia (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Iran menuding Uni Eropa (UE) telah mengesampingkan kedaulatan serta independensi hukum dan politiknya dengan mendukung kebijakan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baqai, menyampaikan kritik tersebut melalui platform X. Ia menilai sikap UE menunjukkan adanya tekanan kuat dari Washington terhadap kebijakan blok tersebut.

Baqai mengatakan UE seolah mengabaikan prinsip kedaulatan, aturan hukum, nilai-nilai, dan etika yang selama ini mereka pegang.

Ia juga menyoroti keberadaan Blocking Statute UE yang dibuat untuk melindungi perusahaan-perusahaan Eropa dari pemberlakuan sanksi asing secara ekstrateritorial.

Menurut Baqai, kebijakan UE saat ini tidak konsisten dengan sikap yang pernah diambil blok tersebut pada 1996 ketika menghadapi sanksi Amerika Serikat.

Ia mempertanyakan keputusan Brussels mendukung tindakan Washington terhadap Iran, sementara UE memiliki regulasi yang menentang penerapan sanksi ekstrateritorial.

“Sekarang UE telah menjadi kaki tangan tindakan melanggar hukum Washington,” kata Baqai, seperti dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 1 September 2026.

Baca Juga: Idrus Marham Apresiasi Dasco soal RUU Perampasan Aset: Ini Sangat Spektakuler

Baqai turut memperingatkan bahwa negara-negara anggota UE berpotensi menghadapi dampak dari dukungan mereka terhadap kebijakan ekonomi AS terhadap Iran.

Menurutnya, keberpihakan terhadap kampanye tekanan ekonomi Washington juga bertentangan dengan upaya untuk menurunkan ketegangan dan menjaga stabilitas di kawasan.

Ketegangan Iran-AS Kembali Memanas

Pernyataan Baqai muncul ketika hubungan Iran dan AS kembali memanas setelah serangan Amerika Serikat ke Pulau Larak, Iran, pada Minggu.

Media Iran melaporkan serangan tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka. Teheran kemudian mengumumkan serangan balasan yang menyasar sejumlah lokasi yang digunakan pasukan AS di Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA).

Ketegangan kedua negara terus meningkat seiring perluasan kebijakan tekanan ekonomi Washington terhadap Teheran.

Pada bulan lalu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap suatu negara” sebagai bagian dari strategi tekanan maksimal terhadap Iran.

Trump menyatakan kebijakan tersebut diarahkan untuk memutus akses finansial Teheran. Ia juga memperingatkan negara-negara yang menyediakan “jalur kehidupan ekonomi” bagi Iran melalui lembaga keuangan, perusahaan, ataupun entitas pemerintah akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat.

HIGHLIGHT

x|close