Ntvnews.id, Pyongyang - Kementerian Luar Negeri Korea Utara menegaskan Pyongyang tidak akan pernah memenuhi tuntutan Amerika Serikat (AS) untuk melakukan denuklirisasi.
Juru bicara Kemlu Korea Utara mengatakan sikap negaranya terkait senjata nuklir tidak mengalami perubahan. Pyongyang bahkan akan terus memperkuat kemampuan nuklirnya meski Washington berulang kali mendesak agar program tersebut dihentikan.
Menurutnya, tuntutan AS agar Korea Utara melakukan denuklirisasi secara menyeluruh menunjukkan bahwa Washington masih mempertahankan pendekatan konfrontatif terhadap Pyongyang.
"Dengan demikian, pemerintahan (Presiden AS Donald) Trump telah sepenuhnya menegaskan kembali kebijakan permusuhannya yang tak berubah untuk secara sembarangan melanggar kedaulatan, sistem politik, dan kepentingan keamanan DPRK (nama resmi Korea Utara)," kata juru bicara tersebut, seperti dikutip kantor berita Korea Utara, KCNA, Selasa, 1 September 2026.
Ia menegaskan kepemilikan senjata nuklir menjadi "jaminan mutlak untuk mempertahankan kedaulatan" Korea Utara. Karena itu, status nuklir negaranya tidak akan berubah hanya akibat tuntutan yang disampaikan pemerintah AS.
Baca Juga: Trump Pertimbangkan Akhiri Perang dengan Iran Tanpa Kesepakatan Nuklir
Juru bicara tersebut juga mengecam rencana latihan militer gabungan AS, Korea Selatan (Korsel), dan Jepang yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Menurutnya, "tak ada gunanya" berharap situasi keamanan di kawasan menjadi lebih tenang apabila latihan militer yang dianggap provokatif masih terus digelar.
Sikap terbaru Pyongyang itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurangan skala latihan militer gabungan AS dan Korsel, Ulchi Freedom Shield, pada bulan ini.
Trump sebelumnya menyebut latihan tersebut membutuhkan biaya besar dan memberikan sinyal yang kurang baik kepada Pyongyang. Pada kesempatan yang sama, ia juga mengatakan memiliki hubungan yang sangat baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.
Trump belakangan dilaporkan meminta para pembantunya mempersiapkan agenda pertemuan dengan Kim Jong Un. Ia disebut ingin bertemu langsung dengan Kim ketika menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China, pada November mendatang.
Trump sebelumnya mengklaim Kim Jong Un telah memberikan respons terhadap ajakan pertemuan tersebut. Namun, Kim Yo Jong, saudara perempuan sekaligus salah satu pejabat senior Korea Utara, mengaku tidak mengetahui adanya komunikasi tersebut.
Kim Yo Jong juga menanggapi keputusan Trump memangkas durasi latihan militer AS-Korsel. Ia menilai langkah tersebut tetap menunjukkan sikap provokatif dan agresif terhadap Korea Utara.
Arsip foto - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri Rapat Pleno ke-10 Komite Sentral ke-8 Partai Pekerja Korea di Pyongyang, Korea Utara, dalam foto tak bertanggal yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat resmi Korea Utara, 2 Juli 2024. ANTARA/KCNA (Antara)