Ntvnews.id, Taheran - Serangkaian serangan rudal dan drone yang dilancarkan Iran dilaporkan menimbulkan kerusakan bernilai miliaran dolar terhadap sejumlah fasilitas dan perangkat intelijen Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
Besarnya kerusakan tersebut bahkan disebut "belum pernah terjadi" dalam sejarah komunitas intelijen AS.
Dilansir dari NBC News, Jumat, 28 Agustus 2026, yang mengutip empat sumber yang mengetahui kondisi tersebut, kerusakan mencakup bangunan, sistem radar, hingga berbagai perangkat pengumpulan informasi yang digunakan CIA dan badan intelijen AS lainnya.
“Sejumlah fasilitas terkait intelijen yang terdampak antara lain sebuah stasiun CIA di Riyadh, fasilitas di Irak timur, serta berbagai instalasi radar dan pengawasan di kawasan,” demikian isi laporan tersebut, dikutip dari TRT World,.
Serangan Iran juga dilaporkan menyasar jaringan radar yang menjadi bagian dari sistem pertahanan udara AS. Berdasarkan citra satelit dan bukti visual, sejumlah perangkat mengalami kerusakan, termasuk radar AN/TPY-2 di Yordania dan radar phased-array AN/FPS-12 di Qatar.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah fasilitas yang berada di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, serta Arab Saudi.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan militer dan komunitas intelijen AS mengenai kemampuan Washington dalam menjaga dan mempertahankan aset-aset strategisnya yang tersebar di Timur Tengah.
Baca Juga: Kapal Induk USS Tinggalkan Timur Tengah, Iran Sebut AS Gagal Unjuk Kekuatan
Kongres AS disebut telah menyediakan anggaran darurat untuk membangun kembali sekaligus mengganti sebagian fasilitas dan perangkat yang rusak akibat serangan tersebut.
Serangan Iran juga memberikan tekanan tambahan terhadap stok sistem pertahanan udara AS. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan sekitar 65 persen persediaan rudal pencegat Patriot milik AS telah digunakan dalam periode Februari hingga Juli.
Sementara itu, persediaan rudal pencegat balistik THAAD dilaporkan menyusut sedikitnya 38 persen dibandingkan jumlah yang tersedia sebelum perang.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat setelah AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari. Iran kemudian merespons dengan menyerang sejumlah pangkalan militer dan fasilitas intelijen AS yang tersebar di beberapa negara kawasan Teluk.
AS dan Iran sempat mencapai nota kesepahaman pada pertengahan Juni melalui mediasi Pakistan untuk menghentikan permusuhan. Namun, pelaksanaan kesepakatan tersebut kemudian terhenti akibat perselisihan terkait sejumlah ketentuan, termasuk persoalan akses pelayaran di Selat Hormuz.
Ilustrasi - Rudal Iran. (Antara)