Trump Mau Ganti Nama Danau Ontario Kanada Jadi Danau Amerika

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Agu 2026, 12:42
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kanan). Presiden Amerika Serikat Donald Trump (tengah) dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney (kanan). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memunculkan pernyataan kontroversial di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Kanada. Ia mengungkapkan kemungkinan mengganti nama Danau Ontario menjadi "Danau Amerika".

Melansir ABC News, Trump menyampaikan gagasan tersebut melalui unggahan di media sosial. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan memburuknya hubungan dagang antara AS dan Kanada.

"Amerika Serikat sedang mempertimbangkan dengan serius untuk mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika, karena kami tidak berharap untuk melakukan banyak bisnis lagi dengan Ontario," kata Trump di media sosial, dikutip dari ABC News, Kamis, 27 Agustus 2026.

Ontario dikenal sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Kanada. Wilayah tersebut juga menjadi salah satu basis utama industri otomotif Kanada.

Wacana perubahan nama Danau Ontario mengingatkan pada langkah Trump pada tahun sebelumnya ketika ia secara sepihak mengganti nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika melalui sebuah perintah eksekutif.

Pernyataan itu disampaikan saat ketegangan perdagangan antara Washington dan Ottawa kembali meningkat. Pada akhir pekan lalu, pemerintahan Trump mengenakan tarif sebesar 50 persen terhadap produk Kanada senilai US$20 miliar setelah negosiasi kedua negara tidak mencapai kesepakatan.

Baca Juga: ignitePRO Hadir di BATIC 2026, Dorong Transformasi AI ke Aksi Nyata

Kanada diperkirakan mengumumkan kebijakan pembalasan pada Selasa. Sebelumnya, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan Ottawa kemungkinan tidak hanya merespons tarif AS dengan langkah serupa, tetapi akan mengambil kebijakan yang lebih terarah demi melindungi pekerja dan pelaku usaha dalam negeri.

"Sikap di meja perundingan yang menganggap Kanada sebagai anak perusahaan Amerika Serikat bukanlah sesuatu yang akan kami terima," kata Carney.

Trump juga mengancam memberlakukan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap kendaraan, komponen otomotif, serta produk baja dari Kanada. Carney menilai tuntutan tersebut dapat memberikan dampak serius terhadap industri strategis negaranya.

"Selama negosiasi, kami mengetahui bahwa Amerika ingin menghancurkan industri-industri utama kami, termasuk otomotif, baja, dan alumunium," ucapnya.

"Itulah salah satu alasan utama kami menolak. Itu adalah kesepakatan yang buruk," sambung Carney.

Konflik perdagangan tersebut berpotensi mengganggu hubungan ekonomi kedua negara yang selama ini memiliki rantai pasokan yang sangat terhubung. Sejumlah sektor yang dapat terdampak antara lain otomotif, energi, pertanian, hingga manufaktur.

Dampak ketidakpastian tersebut mulai dirasakan dunia usaha. Michael Howard II, pemilik usaha furnitur di Warren, Michigan, menilai kebijakan tarif dapat mengancam kelangsungan bisnisnya.

"Mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan Kanada itu tidak jujur. Itu tidak benar, dan itu sama sekali tidak benar. Kita membutuhkan tetangga kita, tetapi mereka juga membutuhkan kita," kata Howard.

Di sisi lain, Trump membantah pernyataan Carney mengenai persoalan bahasa dan budaya Prancis yang disebut turut dibahas dalam negosiasi perdagangan kedua negara.

"Saya tidak akan pernah mengganggu warga Kanada yang berbahasa Prancis! Bahkan, saya tidak pernah berpikir untuk melakukan hal bodoh seperti itu. Kebohongan ini dibuat-buat oleh Perdana Menteri yang lemah dan tidak efektif dalam upaya untuk mendapatkan dukungan politik, yang telah sepenuhnya hilang, dari rakyat Quebec. Saya mencintai warga Kanada berbahasa Prancis!" tulis Trump.

HIGHLIGHT

x|close