Meta Bayar Rp278 Triliun Gegara Penggunaan Media Sosial oleh Remaja

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Agu 2026, 05:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi. Logo Meta. (Foto: Dok/Dado Ruvic/Reuters) Ilustrasi. Logo Meta. (Foto: Dok/Dado Ruvic/Reuters)

Ntvnews.id, Washington D.C - Meta, perusahaan yang menaungi Facebook dan Instagram, menyepakati pembayaran kompensasi hingga US$16,7 miliar atau sekitar Rp278 triliun. Kesepakatan tersebut menjadi bagian dari penyelesaian gugatan yang diajukan oleh sejumlah negara bagian di Amerika Serikat terkait dampak penggunaan media sosial terhadap remaja.

Dilansir dari DW, Jumat, 28 Agustus 2026, Kesepakatan itu masih membutuhkan persetujuan dari pengadilan. Proposal penyelesaian perkara diajukan ke pengadilan federal pada Rabu, 26 Agustus 2026untuk mengakhiri gugatan yang melibatkan gabungan 47 negara bagian AS.

Selain kewajiban pembayaran, Meta juga menyetujui berbagai perubahan kebijakan yang ditujukan untuk meningkatkan perlindungan anak dan mengurangi penggunaan media sosial secara berlebihan. Aturan tersebut mencakup pembatasan penggunaan platform pada malam hari dan selama jam sekolah.

Jaksa Agung California Rob Bonta mengatakan Meta telah menyetujui perubahan signifikan yang diharapkan dapat menekan berbagai risiko yang muncul dari penggunaan platformnya. Menurutnya, sejumlah perubahan tersebut akan mulai diterapkan dalam beberapa bulan mendatang.

Bonta menggambarkan kesepakatan itu sebagai "perubahan nyata, keterbukaan, dan perlindungan nyata yang bisa ditegakkan untuk anak-anak."

Baca Juga: Prabowo Siapkan Bursa Komoditas 2027, Gagasan Kawendra soal Indonesia Metal Exchange Kembali Disorot

Meski menyetujui penyelesaian perkara, dokumen kesepakatan menyatakan Meta tidak mengakui adanya kesalahan maupun pelanggaran hukum. Perusahaan tersebut sejak awal juga telah membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Sementara itu, Jaksa Agung Virginia Jay Jones menuduh Meta secara sengaja menempatkan anak muda dalam kondisi yang berisiko.

"Selama bertahun-tahun, Meta secara sengaja menipu publik mengenai fitur-fitur desain yang membuat ketagihan dan berbahaya yang telah mendatangkan malapetaka bagi kesehatan mental kaum muda," kata Jones.

Ia menilai kesepakatan tersebut akan menghentikan praktik yang dipersoalkan sekaligus memperkuat perlindungan bagi anak-anak ketika menggunakan internet.

Penggunaan Media Sosial Remaja Akan Dibatasi

Dalam proposalnya, Meta mengajukan sejumlah aturan baru bagi pengguna berusia di bawah 18 tahun. Salah satunya berupa pembatasan durasi penggunaan platform setiap hari.

Remaja nantinya hanya diperbolehkan menggunakan platform Meta selama maksimal dua jam dalam sehari. Meski demikian, orang tua tetap memiliki kewenangan untuk menghapus pembatasan tersebut. Apabila Meta menemukan seorang pengguna memiliki lebih dari satu akun, aturan pembatasan akan diterapkan pada seluruh akun yang dimilikinya.

Pengguna di bawah umur juga tidak akan dapat mengakses platform Meta pada tengah malam hingga pukul 06.00.

Meta juga akan memperkenalkan fitur yang disebut "mode sekolah". Melalui fitur ini, seluruh notifikasi akan otomatis dinonaktifkan pada pukul 08.00 hingga 15.00. Pengecualian diberikan untuk notifikasi tertentu, "kecuali pesan langsung (SMS) dan pemberitahuan terkait keamanan akun.

Ilustrasi logo Meta <b>(Antara)</b> Ilustrasi logo Meta (Antara)

Di sebagian besar negara bagian AS, seseorang dapat membuat akun Facebook dan Instagram mulai usia 13 tahun, meski sejumlah wilayah menerapkan batas usia yang lebih tinggi. Namun, California meminta Meta melakukan langkah tambahan untuk mendeteksi serta menghapus akun milik pengguna yang masih berada di bawah batas usia tersebut.

Perusahaan juga diwajibkan merespons 90 persen laporan dari remaja mengenai konten yang diduga berbahaya dalam waktu maksimal enam jam.

Selain itu, pengguna berusia di bawah 18 tahun akan memperoleh opsi untuk menggunakan linimasa yang tidak sepenuhnya disusun berdasarkan minat maupun aktivitas mereka. Dengan demikian, remaja dapat memperoleh paparan terhadap konten yang lebih beragam.

Meta Dorong TikTok dan YouTube Ikuti Aturan

Meta menyatakan kesepakatan tersebut merupakan hasil pembahasan bersama jaksa agung dari Partai Republik maupun Demokrat. Perusahaan mengatakan aturan baru itu dibangun "berdasarkan upaya yang telah lama dilakukan untuk membantu orang tua dan mendukung remaja."

Meta juga menyatakan ingin memastikan remaja memperoleh manfaat dari "standar baru di industri ini". Namun, perusahaan mengakui perlindungan tersebut tidak akan efektif apabila hanya diterapkan oleh satu platform.

"Perlindungan ini hanya akan benar-benar efektif jika kami bekerja sama dengan rekan-rekan kami yaitu TikTok dan YouTube, untuk menerapkan langkah-langkah yang sama," kata perusahaan tersebut.

Pembayaran dari Meta akan dilakukan secara bertahap selama 10 tahun. Nilai totalnya bahkan berpotensi mencapai US$18 miliar atau sekitar Rp318,6 triliun.

Sebanyak 70 persen dari nilai tersebut akan diberikan kepada negara-negara bagian yang terlibat dalam gugatan. Sementara sekitar 30 persen sisanya baru akan dibayarkan apabila dua persyaratan tertentu terpenuhi.

Meta menyebut persyaratan itu adalah "YouTube dan TikTok menerapkan batas harian satu jam, mode malam, dan verifikasi usia," serta kedua perusahaan tersebut harus membayar jumlah yang setara dengan bagian 30 persen masing-masing.

Apabila YouTube dan TikTok ikut menerapkan ketentuan tersebut, Meta berencana memperketat kebijakannya sendiri. Durasi penggunaan akan dipangkas menjadi satu jam untuk setiap aplikasi, sedangkan periode mode malam diperpanjang dari pukul 22.00 hingga 07.00.

"Karena remaja berpindah-pindah dengan mudah di antara banyak aplikasi, kita membutuhkan solusi yang berlaku di seluruh industri," kata Chief Legal Officer Meta C.J. Mahoney.

Mahoney juga menyerukan agar TikTok dan YouTube segera menerapkan aturan serupa. Ia mengaku bangga sebagai orang tua terhadap berbagai langkah yang telah dilakukan Meta untuk melindungi pengguna muda, termasuk kesepakatan baru yang disebutnya sebagai "terobosan besar".

HIGHLIGHT

x|close