Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan kepada negara-negara Muslim agar memperkuat kolaborasi ekonomi di tengah meningkatnya tekanan terhadap Teheran. Seruan itu disampaikan ketika Iran masih menghadapi konflik dengan Amerika Serikat dan ancaman pemberlakuan sanksi baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 28 Agustus 2026, dalam pidatonya pada Konferensi Persatuan Islam Internasional ke-40, Pezeshkian menilai kekuatan ekonomi negara-negara Muslim belum sebanding dengan jumlah penduduk maupun posisi strategis yang mereka miliki di tingkat global.
Ia menyebut perdagangan antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) masih relatif rendah. Menurut Pezeshkian, hanya sekitar 19 persen kegiatan ekspor negara-negara OKI yang ditujukan kepada sesama anggota organisasi tersebut. Sebagian besar komoditas justru dipasarkan ke negara di luar OKI.
Kondisi tersebut, menurutnya, membuat potensi pertumbuhan ekonomi negara-negara OKI belum maksimal. Karena itu, ia mendorong peningkatan aktivitas perdagangan di antara negara anggota sebagai salah satu cara memperkuat perekonomian bersama.
Seruan tersebut disampaikan ketika Iran menghadapi tekanan ekonomi baru dari Amerika Serikat. Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan penerapan sanksi yang disebut sebagai "terberat dalam sejarah" terhadap Iran setelah proses perundingan antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan.
Baca Juga: Presiden Iran Masoud Pezeshkian Sehat Usai Serangan AS-Israel
Kebijakan tersebut tidak hanya menyasar Iran. Negara-negara yang tetap menjalin hubungan perdagangan dengan Teheran juga terancam terkena dampak sanksi. Trump memperingatkan negara mana pun yang terus bekerja sama dengan Iran akan menghadapi konsekuensi serius.
Dalam pidatonya, Pezeshkian juga menyampaikan pesan mengenai hubungan antarnegara Muslim. Ia menegaskan bahwa wilayah maupun negara Muslim tidak semestinya dijadikan sarana untuk menghadapi negara Muslim lainnya.
Pezeshkian mengatakan Iran saat ini berada dalam posisi mempertahankan diri dari pihak yang menurutnya lebih dahulu memulai agresi dan konflik.
"Tidak ada negara Muslim yang boleh mengupayakan keamanannya dengan mengorbankan keamanan negara tetanganya," kata Pezeshkian.
"Wilayah negara Muslim mana pun tidak boleh digunakan untuk melawan negara Muslim lainnya," tukasnya.
Pernyataan tersebut menjadi seruan Pezeshkian agar negara-negara Muslim tidak hanya memperkuat hubungan ekonomi, tetapi juga menjaga solidaritas dan keamanan bersama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Antara)