Ntvnews.id, Moskow - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin atas sikap Moskwa ketika Iran menghadapi serangkaian serangan dari Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan terakhir.
Dilansir dari AFP, Rabu, 2 September 2026, pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian secara langsung kepada Putin di sela-sela agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) yang berlangsung di Kirgistan.
"Kami menghargai dan berterima kasih atas sikap Anda, baik selama masa pertempuran dan tindakan agresi berlangsung, maupun dalam keadaan normal saat AS menjatuhkan sanksi kepada kami di Perserikatan Bangsa Bangsa maupun di forum-forum internasional," kata Pezeshkian.
"Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita adalah hubungan strategis, bukan hubungan biasa," imbuhnya, seperti dikutip AFP.
Dalam pernyataan terpisah, pihak kepresidenan Iran menyebut Pezeshkian dan Putin membahas hubungan bilateral kedua negara serta langkah untuk memperkuat dan memperluas kerja sama di sejumlah sektor. Keduanya terakhir bertemu dalam KTT di Turkmenistan pada Desember 2025.
Sebelumnya, Pezeshkian juga menyatakan Iran siap kembali menawarkan perdamaian kepada AS. Ia menyinggung nota kesepahaman yang disepakati kedua negara pada Juni lalu sebagai landasan untuk mengakhiri konflik.4
Baca Juga: Xi Jinping Bertemu Vladimir Putin di Bishkek
"Saya menyatakan dengan jelas bahwa jika Amerika Serikat kembali ke komitmen mereka berdasarkan nota kesepahaman, Republik Islam Iran akan melakukan tindakan serupa sesegera mungkin," kata dia dalam rilis resmi yang dimuat di situs kepresidenan Iran.
Pernyataan senada disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Ia meminta Washington kembali menjalankan kesepakatan yang sebelumnya telah ditandatangani Presiden AS Donald Trump.
"Dalam kasus ini, semuanya bisa dikembalikan ke jalur yang benar," kata Araghchi.
Pertemuan Pezeshkian dan Putin berlangsung ketika ketegangan antara Iran dan AS kembali meningkat di kawasan Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis tersebut telah menjadi salah satu titik panas konflik kedua negara selama enam bulan terakhir.
Serangan besar-besaran AS bersama sekutunya, Israel, terhadap Iran pada akhir Februari lalu mendorong Teheran menutup Selat Hormuz. Sejak saat itu, konflik dan ketegangan di kawasan tersebut terus berlanjut.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia Vladimir Putin (Istimewa)