Ntvnews.id, Taheran - Militer Iran disebut menggunakan strategi baru dalam menghadapi serangan balik Amerika Serikat (AS). Taktik tersebut dilakukan dengan memaksa sistem pertahanan udara AS mengeluarkan sebanyak mungkin rudal pencegat.
Dilansir dari AFP, Jumat, 4 September 2026, dalam satu serangan, pasukan AS dilaporkan harus menembakkan sekitar empat rudal Patriot untuk menghadapi satu rudal balistik Iran.
Strategi tersebut terlihat ketika Iran menyerang pangkalan militer AS di Yordania pada Senin, 31 Agustus 2026 dini hari. Dalam satu gelombang serangan, militer AS disebut meluncurkan lebih dari 80 rudal Patriot untuk mencegat rudal-rudal Iran.
Jumlah tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 10 persen stok rudal Patriot AS yang berada di kawasan. Informasi itu dilaporkan majalah militer Military Watch dengan mengutip sumber pejabat AS.
Rudal-rudal pencegat tersebut dilaporkan dikirim dari Ansbach, Jerman. Dengan pola penggunaan tersebut, satu rudal balistik Iran dapat membuat pasukan AS mengerahkan sekitar empat rudal Patriot untuk melakukan intersepsi.
Situasi ini berpotensi menguras persediaan amunisi pertahanan udara AS. Bahkan jika seluruh rudal Iran berhasil dihentikan sebelum mencapai sasaran, setiap upaya intersepsi tetap membuat AS harus mengeluarkan satu atau lebih rudal pencegat.
Iran tampaknya tidak semata-mata mengandalkan rudal untuk menghancurkan target militer AS. Serangan dalam jumlah besar juga dapat digunakan untuk membebani sistem pertahanan udara lawan sekaligus mengurangi persediaan rudal pencegat.
Baca Juga: Trump Sebut Serangan AS ke Iran untuk Lindungi Israel dan Negara Barat
Melalui strategi tersebut, rudal Iran yang berhasil digagalkan pun tetap dapat memberikan tekanan terhadap AS. Pasalnya, setiap rudal yang dicegat membutuhkan penggunaan amunisi pertahanan udara.
Persoalan mengenai keterbatasan stok rudal pencegat AS sebenarnya telah menjadi perhatian sejak awal konflik. Dalam lima hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari, AS dilaporkan telah menembakkan lebih dari 800 rudal pencegat untuk menghadapi serangan balasan Iran.
Situasi tersebut kemudian semakin mengkhawatirkan. Pada Juli, muncul laporan bahwa stok rudal pencegat AS telah menyusut hingga sekitar 25 persen dari tingkat persediaan yang dinilai penting oleh Departemen Pertahanan AS.
Bendera nasional Iran berkibar di sebuah bangunan yang rusak akibat serangan AS-Israel di Teheran, Iran, Senin (20/4/2026) (antara)
Kondisi tersebut membuat Washington harus mencari pasokan tambahan dari negara lain. AS juga dilaporkan menghentikan atau mengurangi pengiriman rudal kepada sejumlah sekutunya serta mengerahkan sistem pertahanan udara dari kawasan lain untuk memperkuat wilayah yang menghadapi ancaman Iran.
Serangan di Yordania kembali memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi sistem pertahanan udara AS. Iran tidak perlu menghancurkan seluruh perangkat pertahanan lawan untuk menciptakan tekanan strategis.
Dengan melancarkan serangan rudal dalam jumlah tertentu dan membuat AS menggunakan beberapa pencegat untuk menghadapi setiap target, Iran dapat terus mengikis persediaan amunisi pertahanan udara AS.
Ilustrasi - Rudal Iran. (Antara)