Ntvnews.id, Beijing - Presiden China Xi Jinping mendorong negara-negara Timur Tengah untuk menolak campur tangan pihak luar dan mempertimbangkan pembentukan kembali arsitektur keamanan di kawasan.
Dilansir dari Al Jazeera, Jumat, 4 September 2026, pernyataan tersebut disampaikan Xi saat bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam kunjungannya ke Mesir pada Rabu, 2 September 2026. Langkah itu dinilai sebagai bagian dari upaya China memperluas pengaruhnya di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
"China mendukung negara-negara di kawasan ini dalam membangun arsitektur keamanan baru untuk Timur Tengah," ujar Xi Jinping saat bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.
"Rakyat Timur Tengah harus tetap menjadi penguasa urusan mereka sendiri dan campur tangan eksternal harus ditolak. China dan Mesir bersama-sama menentang unilateralisme dan tindakan intimidasi," sambungnya.
Kunjungan tersebut menjadi perjalanan pertama Xi ke kawasan Timur Tengah dalam empat tahun terakhir. Momentum ini berlangsung ketika sejumlah negara yang selama ini menjadi mitra AS mulai mengevaluasi kembali hubungan strategis mereka.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang dipicu serangan AS terhadap Iran telah memberikan dampak luas terhadap perdagangan dan perekonomian global. Situasi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan peran Washington di kawasan.
Mesir sendiri merupakan salah satu mitra pertahanan penting AS. Kairo menerima bantuan militer tahunan sekitar US$1,3 miliar dari Washington, tetapi dalam beberapa tahun terakhir juga terus memperkuat hubungan ekonomi dan militernya dengan China.
Baca Juga: Trump dan Xi Jinping Akan Bahas Dominasi AI dalam Pertemuan di Washington
Di tengah ketegangan yang terjadi di Selat Hormuz akibat perang AS dan Iran, Xi menyatakan kesiapan China untuk bekerja sama dengan negara-negara Timur Tengah dalam menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Xi juga menyerukan adanya solusi komprehensif untuk keamanan bersama guna mengatasi persoalan keamanan di Timur Tengah.
Selain itu, Xi menegaskan bahwa persoalan Palestina harus tetap ditempatkan sebagai inti permasalahan Timur Tengah dan tidak boleh diabaikan dalam upaya menciptakan stabilitas kawasan.
China, menurut Xi, mendukung peran PBB yang lebih efektif dalam menangani persoalan di Timur Tengah. Beijing juga meminta negara-negara dan kekuatan eksternal menghentikan penerapan standar ganda dalam menyikapi berbagai persoalan di kawasan.
Hubungan diplomatik antara China dan Mesir sendiri telah berlangsung sejak 1956. Mesir tercatat sebagai negara Arab sekaligus negara Afrika pertama yang menjalin hubungan diplomatik dengan Beijing.
Presiden China, Xi Jinping. (Antara)