China Pulihkan Jalan Rusak akibat Banjir Bandang dalam Hitungan Hari

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Sep 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Banjir Bandang China-Nepal Banjir Bandang China-Nepal (Istimewa)

Ntvnews.id, Beijing - China bergerak cepat memperbaiki jalan yang mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang di wilayah Gyirong, Shigatse, Daerah Otonom Xizang. Dalam beberapa hari, tim penyelamat mulai membuka kembali akses jalan utama menuju Pelabuhan Gyirong.

Hingga pukul 16.00 waktu setempat pada Senin, 31 Agustus 2026, petugas telah membersihkan sekitar 1,1 kilometer ruas jalan dari Pelabuhan Gyirong. Pekerjaan tersebut menjadi tahap penting untuk melewati bagian paling sulit dari Jalan Raya Nasional G216 yang terdampak bencana.

Dilansir dari AFP, Rabu, 2 September 2026, Kementerian Manajemen Darurat China mengerahkan tim penyelamat profesional dari China Anneng Group untuk mempercepat proses pemulihan jalur tersebut.

Para petugas bekerja dengan membersihkan material longsoran, memperbaiki bagian jalan yang rusak, serta memasang batu di tengah aliran air yang deras untuk membantu membentuk kembali struktur jalan.

Baca Juga: Update: Banjir Bandang Nepal-China 919 Orang Tewas dan 4.793 Masih Hilang

Bencana bermula ketika longsoran lumpur dalam skala besar dari wilayah Nepal menerjang kawasan Pelabuhan Gyirong pada Rabu pagi pekan sebelumnya. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah korban meninggal dunia, sementara beberapa orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Banjir bandang dan longsor kemudian merusak Jalan G216 secara signifikan. Bencana juga menyebabkan jaringan listrik dan telekomunikasi terputus sehingga operasi pencarian dan penyelamatan menjadi semakin sulit.

Kerahkan 158 Personel dan 28 Alat Berat

Pada Senin, China Anneng mengirimkan 158 personel penyelamat beserta 28 unit peralatan ke pusat lokasi bencana. Berbagai alat berat dikerahkan, termasuk ekskavator dan loader.

Namun, pekerjaan menjadi semakin rumit ketika tim mencapai area jurang di sekitar pelabuhan. Di satu sisi terdapat tebing curam dengan bebatuan yang rawan bergerak, sedangkan sisi lainnya dipenuhi aliran air dengan arus yang kuat.

Keterbatasan ruang kerja juga membuat sejumlah alat berat tidak bisa digunakan secara bersamaan. Selain itu, kondisi dasar sungai yang berlumpur menyebabkan roda dan rantai ekskavator mudah kehilangan pijakan.

Batu-batu berukuran besar yang ditempatkan di dalam aliran air pun beberapa kali terseret oleh derasnya arus. Situasi tersebut membuat pergerakan alat berat menjadi terbatas sekaligus memperlambat proses pemindahan material.

Banjir Bandang di Perbatasan China-Nepal Tewaskan 22 Orang, 384 Turis Hilang <b>(Tangkapan Layar)</b> Banjir Bandang di Perbatasan China-Nepal Tewaskan 22 Orang, 384 Turis Hilang (Tangkapan Layar)

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim penyelamat menerapkan metode estafet menggunakan ekskavator. Batu-batu besar dipindahkan satu per satu dan disusun di sepanjang tepian aliran air untuk mengurangi dampak erosi.

Material kemudian ditempatkan dan dipadatkan di belakang susunan batu secara bertahap. Teknik tersebut digunakan untuk membangun kembali bagian dasar jalan yang sebelumnya hancur akibat banjir dan longsor.

Pada titik dengan arus air paling deras, operator bahkan mengarahkan alat berat langsung ke dalam aliran air. Langkah itu dilakukan untuk memperpanjang struktur jalan sedikit demi sedikit hingga terbentuk jalur sementara.

Gunakan Teknologi AI Pantau Tebing

Selain memulihkan akses jalan, tim penyelamat juga memperkuat langkah keselamatan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya bencana geologi susulan.

Kondisi tebing di sekitar area pekerjaan terus dipantau selama proses perbaikan berlangsung, sebagaimana dikutip dari China Daily.

Tim menggunakan perangkat pemantauan berbasis laser yang dipadukan dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Sistem tersebut berfungsi mendeteksi perubahan bentuk tebing, potensi jatuhan batu, serta tanda-tanda lain yang menunjukkan ketidakstabilan lereng.

Jalur evakuasi darurat juga telah disiapkan di sekitar lokasi pekerjaan. Apabila sistem pemantauan mendeteksi perubahan kondisi lereng yang tidak normal, petugas akan memberikan peringatan dan segera mengarahkan pekerja menuju lokasi yang aman.

HIGHLIGHT

x|close