Ntvnews.id, Moskow - Rusia dilaporkan secara diam-diam membantu Iran mengembangkan teknologi rudal jelajah supersonik meski mendapat peringatan dan ancaman dari Amerika Serikat (AS).
Informasi tersebut terungkap dalam laporan investigasi Financial Times, dikutip Kamis, 3 September 2026. Berdasarkan laporan itu, kerja sama pengembangan teknologi rudal tersebut telah dimulai sejak 2023 dan berpotensi memberi kemampuan bagi Teheran untuk menyerang kapal induk AS maupun kapal-kapal lainnya di kawasan Timur Tengah ketika terjadi konflik.
Financial Times menyusun laporan investigasinya berdasarkan sejumlah dokumen, termasuk korespondensi dari Rusia, catatan perjalanan, serta paten yang berkaitan dengan teknologi militer.
Program tersebut disebut sebagai "salah satu transfer teknologi militer strategis paling signifikan yang diketahui dari Moskow ke Teheran."
Sejumlah pakar Rusia terkemuka di bidang teknologi rudal juga dilaporkan terlibat dalam program pengembangan tersebut.
Menurut laporan itu, kerja sama tersebut berfokus pada pengembangan sistem propulsi ramjet (scramjet propulsion). Teknologi ini memungkinkan rudal jelajah bergerak dengan kecepatan beberapa kali lipat dari kecepatan suara.
Ramjet merupakan sistem mesin jet yang relatif sederhana karena tidak menggunakan komponen bergerak seperti kompresor atau turbin. Mesin tersebut memanfaatkan kecepatan gerak kendaraan untuk memampatkan udara yang masuk ke dalam sistem.
Financial Times juga melaporkan Iran telah membangun dan melakukan pengujian terhadap sistem tersebut. Namun, hingga kini belum ditemukan bukti bahwa rudal jelajah supersonik yang menggunakan teknologi itu telah digunakan atau dikerahkan.
Baca Juga: Prancis Janji Kirim Rudal ke Ukraina
Fabian Hinz, pakar rudal Iran sekaligus analis senior di Conflict Armament Research, menilai transfer teknologi tersebut memiliki arti strategis yang sangat besar bagi Iran.
"Ini adalah transfer teknologi militer yang sangat sensitif secara strategis dari Rusia yang telah diinginkan Iran selama beberapa dekade," kata Fabian Hinz, seorang ahli rudal Iran dan analis senior di Conflict Armament Research, kepada surat kabar tersebut.
Ia juga menilai proyek dengan tingkat sensitivitas seperti itu kemungkinan membutuhkan persetujuan dari jajaran tertinggi pemerintahan Rusia.
"Program seperti ini akan membutuhkan persetujuan politik dari tingkat tertinggi di Rusia."
Hubungan antara Teheran dan Moskow sendiri telah berlangsung erat dalam berbagai bidang. Kedekatan tersebut kembali terlihat ketika Presiden Iran Masoud Pezeshkian bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di Kirgistan.
Dalam pertemuan itu, Pezeshkian menyampaikan apresiasi kepada Putin atas sikap Rusia terhadap Iran di tengah konflik yang berlangsung di Timur Tengah.
"Kami menghargai dan berterima kasih atas sikap Anda di setiap tahapan, baik selama masa pertempuran dan tindakan agresi berlangsung, maupun dalam keadaan normal saat Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada kami, baik di Perserikatan Bangsa-Bangsa maupun di forum-forum internasional," ujar Pezeshkian kepada Putin, dilansir AFP, Rabu (2/9).
Pezeshkian menilai hubungan antara Iran dan Rusia telah berkembang menjadi kemitraan strategis, bukan sekadar hubungan biasa.
"Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kita adalah hubungan strategis; bukan hubungan biasa," tambahnya.
Ilustrasi - Rudal Iran. (Antara)