Menteri Israel Ungkap Rencana Pindahkan 1,86 Juta Warga Palestina dari Gaza dalam 7 Tahun

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Sep 2026, 09:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Orang-orang ikut serta dalam sebuah aksi unjuk rasa untuk memprotes rencana Israel atas pemindahan paksa di Kota Gaza, Palestina, Kamis (23/7/2026) Orang-orang ikut serta dalam sebuah aksi unjuk rasa untuk memprotes rencana Israel atas pemindahan paksa di Kota Gaza, Palestina, Kamis (23/7/2026) (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Menteri Israel sekaligus pemimpin partai sayap kanan Jewish Power, Itamar Ben-Gvir, membeberkan rencana untuk memindahkan sekitar 1,86 juta warga Palestina dari Gaza dalam waktu tujuh tahun. Program tersebut dikemas dengan istilah migrasi sukarela.

Rencana yang dinamai “Disengagement 710” itu disampaikan Ben-Gvir dalam konferensi pers pada Kamis, 3 September 2026. Program tersebut menjadi bagian dari agenda kampanye politiknya menjelang pemilu.

Pemaparan itu dilakukan tidak lama setelah surat kabar Yedioth Ahronoth mengungkap sejumlah rincian mengenai rencana tersebut.

Berdasarkan laporan Yedioth Ahronoth, Sabtu, 5 September 2026, skema tersebut mengusulkan pembentukan lembaga atau kementerian khusus yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program. Pemerintah juga akan menyediakan paket penyerapan bagi warga Palestina yang dipindahkan ke negara-negara yang bersedia menerima mereka.

“Terdapat sejumlah negara yang siap menerima warga Palestina dan sejumlah besar orang ingin pindah,” klaim Ben-Gvir dalam pemaparannya, dikutip dari TRT World.

Namun, laporan Yedioth Ahronoth menyebutkan kondisi yang berbeda.

“Hingga kini tidak ada negara yang diketahui telah menyatakan kesediaan menerima warga Palestina dari Gaza dalam jumlah besar.”

Baca Juga: Netanyahu Tegaskan Israel Tak Akan Mundur dari Gaza Palestina

Dalam rancangan tersebut, sebanyak 250.000 warga Palestina ditargetkan meninggalkan Gaza pada tahun pertama. Jumlah itu kemudian diproyeksikan mencapai 1,11 juta orang dalam tiga tahun dan sekitar 1,86 juta orang setelah program berjalan selama tujuh tahun.

Ben-Gvir disebut telah mempersiapkan rencana tersebut selama beberapa bulan. Ia juga berencana menjadikan program itu sebagai salah satu isu utama dalam kampanye politiknya.

Partai Jewish Power bahkan disebut akan menjadikan pelaksanaan rencana tersebut sebagai salah satu syarat penting dalam setiap pembicaraan untuk bergabung dengan pemerintahan Israel berikutnya.

Rencana Pembentukan Kementerian Migrasi

Rencana tersebut disusun berdasarkan 12 prinsip, salah satunya adalah konsep “keberangkatan sukarela”. Warga Palestina yang meninggalkan Gaza nantinya harus memiliki negara tujuan yang bersedia menerima mereka sekaligus memberikan status hukum yang jelas.

Skema tersebut juga mengatur agar setiap individu maupun keluarga yang dipindahkan mendapatkan negara tujuan, status hukum, dokumen perjalanan, visa, biaya transportasi, hingga tempat tinggal sementara setelah tiba di negara penerima.

Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. <b>(Antara)</b> Ilustrasi kerusakan infrastruktur Jalur Gaza. (Antara)

Negara maupun pihak yang bersedia menerima warga Gaza akan mendapatkan “pembayaran”. Besarannya dikaitkan dengan sejumlah indikator, seperti kinerja pelaksanaan program, hasil pemeriksaan keamanan terhadap individu, serta pencapaian target tahunan.

Pelaksanaan program juga akan dipantau melalui laporan bulanan. Laporan tersebut mencakup jumlah permohonan, persetujuan dan keberangkatan, termasuk biaya yang dikeluarkan serta tingkat integrasi warga Palestina di negara tujuan.

Untuk tahap awal, rancangan Ben-Gvir memperkirakan Israel perlu mengeluarkan investasi sekitar USD3,3 miliar untuk membangun sekaligus menjalankan program tersebut. Selain itu, disiapkan pula skema pembiayaan hingga USD16,6 miliar yang pelaksanaannya bergantung pada dukungan internasional dan tercapainya kesepakatan dengan negara-negara penerima.

Ben-Gvir juga mendorong pembentukan “kementerian migrasi”. Lembaga tersebut nantinya dipimpin seorang menteri bersama pejabat khusus yang bertugas mengawasi dan memastikan pelaksanaan proyek berjalan sesuai rencana.

Saat ini, sekitar 2,13 juta warga Palestina tinggal di Gaza. Israel menguasai sekitar 70 persen wilayah tersebut. Sejak konflik pecah pada Oktober 2023, serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 73.000 warga Palestina meninggal dunia, mayoritas di antaranya perempuan dan anak-anak, sementara lebih dari 174.000 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Serangkaian serangan tersebut juga menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza mengalami kehancuran dan memaksa seluruh penduduknya meninggalkan tempat tinggal mereka. Sejumlah analis menilai jumlah korban sebenarnya kemungkinan lebih besar dibandingkan angka resmi yang tercatat, bahkan diperkirakan dapat mencapai sekitar 200.000 orang.

TERKINI

Load More
x|close