Rusia Kawal Kapal Tanker Minyak Venezuela yang Diburu AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jan 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi bendera Venezuela/HO-Kementerian Luar Negeri RI/www.kemlu.go.id Ilustrasi bendera Venezuela/HO-Kementerian Luar Negeri RI/www.kemlu.go.id (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Rusia dilaporkan mengerahkan kekuatan angkatan lautnya untuk mengawal sebuah kapal tanker minyak yang tengah menjadi incaran pasukan Amerika Serikat (AS) di Samudra Atlantik. Kapal tanker tersebut secara historis diketahui pernah mengangkut minyak mentah Venezuela, meskipun dalam pelayaran kali ini dilaporkan tidak membawa muatan.

Dilansir dari BBC, Kamis, 7 Januari 2026, kapal tanker itu terdeteksi berada di perairan antara Skotlandia dan Islandia. Pergerakan kapal terjadi di tengah memanasnya hubungan Washington dan Moskow, khususnya terkait penegakan sanksi terhadap pengiriman minyak Venezuela.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan telah memerintahkan penerapan “blokade” terhadap kapal-kapal tanker minyak yang dikenai sanksi dan keluar-masuk wilayah Venezuela. Kebijakan tersebut dikecam pemerintah Caracas yang menilai langkah itu sebagai bentuk “perampasan” di laut internasional.

Baca Juga: Presiden Sementara Venezuela Umumkan Masa Berkabung 7 Hari

Menjelang penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS pada Sabtu lalu, Trump juga berulang kali menuding pemerintah Venezuela memanfaatkan jalur laut untuk menyelundupkan narkotika ke Amerika Serikat.

Mengutip BBC, Rabu, 7 Januari 2026, Penjaga Pantai AS sempat berupaya menaiki kapal tanker bernama Bella 1 di kawasan Karibia bulan lalu, ketika kapal tersebut diduga hendak menuju Venezuela. Otoritas AS mengantongi surat perintah penyitaan dengan tuduhan pelanggaran sanksi dan pengangkutan minyak Iran. Namun, kapal itu kemudian berbelok arah secara drastis, mengganti nama menjadi Marinera, serta memindahkan pendaftaran bendera dari Guyana ke Rusia.

AS Siap Lakukan Intersepsi

Pergerakan Marinera menuju perairan Eropa bertepatan dengan kedatangan sekitar 10 pesawat angkut militer AS dan sejumlah helikopter di kawasan tersebut. Pemerintah Rusia menyatakan tengah “memantau dengan penuh keprihatinan” situasi yang melibatkan kapal tanker itu.

Dua pejabat AS pada Selasa mengatakan bahwa pasukan Amerika berencana menaiki kapal tersebut dan Washington lebih memilih melakukan penyitaan ketimbang menenggelamkannya. Pada hari yang sama, U.S. Southern Command menyatakan melalui media sosial bahwa pihaknya tetap siap mendukung lembaga pemerintah AS dalam menghadapi kapal dan aktor yang dikenai sanksi.

Angkatan Laut AS <b>(Istimewa)</b> Angkatan Laut AS (Istimewa)

“Angkatan laut kami waspada, lincah, dan berada dalam posisi untuk melacak kapal-kapal yang menjadi perhatian. Ketika perintah datang, kami akan siap,” demikian pernyataan tersebut.

Kapal Marinera diyakini masih berada di antara Skotlandia dan Islandia hingga Selasa malam. Jarak tempuh yang panjang serta kondisi cuaca buruk dinilai menjadi kendala utama bagi upaya menaiki kapal tersebut.

Apabila AS melakukan operasi dari wilayah Inggris, Washington secara diplomatik diperkirakan akan menyampaikan pemberitahuan lebih dulu kepada London. Hingga kini, Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan tidak akan berkomentar mengenai aktivitas militer negara lain.

Pejabat AS juga menyinggung kemungkinan skenario serupa dengan penyitaan kapal tanker The Skipper bulan lalu, ketika Marinir AS dan pasukan operasi khusus, bersama Penjaga Pantai, menyita kapal berbendera Guyana setelah meninggalkan pelabuhan di Venezuela.

Pergantian Bendera Tak Halangi Penegakan Hukum

Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026. ANTARA FOTO/Indrianto Eko <b>(Antara)</b> Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa, 6 Januari 2026. ANTARA FOTO/Indrianto Eko (Antara)

Dalam hukum internasional, kapal yang mengibarkan bendera suatu negara berada di bawah yurisdiksi serta perlindungan negara tersebut. Namun analis senior risiko dan kepatuhan perusahaan intelijen maritim Kpler, Dimitris Ampatzidis, menilai perubahan nama dan bendera tidak banyak memengaruhi posisi hukum kapal.

“Tindakan AS didorong oleh identitas dasar kapal, seperti nomor IMO, jaringan kepemilikan atau pengendalian, serta riwayat sanksi—bukan oleh nama yang dicat di lambung atau klaim benderanya,” ujarnya.

Baca Juga: AS Minta Venezuela Hentikan Kerja Sama dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba

Ampatzidis menambahkan bahwa pendaftaran ulang ke Rusia memang berpotensi memicu ketegangan diplomatik, tetapi tidak secara otomatis menghentikan upaya penegakan hukum AS.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan kapal tersebut berlayar di perairan internasional Atlantik Utara di bawah bendera Federasi Rusia dan mematuhi hukum maritim internasional. Moskow menilai perhatian militer AS dan NATO terhadap kapal itu sebagai tindakan yang “tidak proporsional” serta menyerukan penghormatan terhadap prinsip kebebasan navigasi.

Potensi kebuntuan terkait kapal tanker ini muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat mengejutkan dunia dengan penangkapan Maduro di Caracas, yang disertai serangan udara terhadap sejumlah target di ibu kota Venezuela dalam operasi militer tersebut.

TERKINI

Load More

HIGHLIGHT

x|close