Ntvnews.id, Jakarta - Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang meninggal dunia dalam operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat.
“Saya telah memutuskan untuk menetapkan masa berkabung selama tujuh hari sebagai penghormatan dan kemuliaan bagi para pemuda, perempuan, dan laki-laki yang gugur dan mengorbankan nyawa mereka demi membela Venezuela dan Presiden Nicolas Maduro. Penghormatan kami tertuju kepada mereka,” kata Rodriguez pada Selasa, 6 Januari 2026 waktu setempat.
Rodriguez menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diambil menyusul tewasnya sejumlah pemuda yang oleh otoritas Venezuela dipandang sebagai martir, karena gugur saat mempertahankan negara dari agresi eksternal demi menjunjung nilai-nilai tertinggi republik.
Sebelumnya, pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Venezuela. Operasi tersebut berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dibawa ke New York untuk menghadapi proses persidangan atas dugaan keterlibatan dalam apa yang disebut sebagai kasus “narko-terorisme”.
Baca Juga: AS Minta Venezuela Hentikan Kerja Sama dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba
Dalam pernyataannya, Presiden sementara Venezuela itu juga menegaskan pentingnya menjaga perdamaian di dalam negeri serta kembali menyerukan penghentian segala bentuk tekanan dan serangan terhadap republik tersebut.
Sementara itu, pada Ahad 4 Januari 2026, Pemerintah Kuba menyampaikan bahwa sebanyak 32 pejuang yang tengah menjalankan tugas keamanan dan pertahanan di Caracas atas permintaan otoritas Venezuela dilaporkan gugur setelah menghadapi perlawanan sengit.
Menurut keterangan pemerintah Kuba, para pejuang tersebut tewas akibat pertempuran langsung dengan pasukan Amerika Serikat maupun akibat serangan pengeboman. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez kemudian menetapkan 5 dan 6 Januari sebagai hari berkabung nasional di Kuba.
Selanjutnya, pada Selasa, Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba merilis daftar nama 32 pejuang yang gugur tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 11 orang merupakan anggota angkatan bersenjata, sedangkan 21 lainnya berasal dari Kementerian Dalam Negeri Kuba.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa mengakui bahwa banyak korban jiwa jatuh akibat operasi militer AS di Venezuela. Ia menambahkan bahwa sebagian besar korban tersebut merupakan warga negara Kuba.
(Sumber: Antara)
Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Dalam aksi solidaritas tersebut mereka mengecam tindakan penyerangan dan penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro berserta istrinya oleh Amerika Serikat dan meminta agar Indonesia untuk menyatakan sikap resmi, serta mendukung rakyat Venezuela menentukan nasib negaranya tanpa intervensi asing. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU (Antara)