Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin 5 Januari 2026 menyatakan bahwa Venezuela tidak akan mengadakan pemilu baru dalam 30 hari ke depan.
“Kita harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak bisa mengadakan pemilu. Tidak mungkin rakyat bisa memberikan suara,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.
“Ini akan membutuhkan waktu. Kita harus memulihkan kesehatan negara itu,” tambahnya.
Trump menjelaskan bahwa operasi militer AS pada Sabtu 3 Januari 2026 telah menyebabkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores, dan dia menegaskan komitmennya untuk menegakkan kendali Amerika Serikat atas negara itu untuk sementara waktu, termasuk pengerahan pasukan AS jika diperlukan.
Dia menekankan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela.
“Tidak. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba. Kita sedang berperang dengan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita dan mengosongkan pecandu narkoba mereka dan mengosongkan lembaga-lembaga kesehatan mental mereka ke negara kita,” kata Trump.
Baca Juga: Wapres Venzuela Tegaskan Maduro Tetap Presiden Usai Ditangkap AS
Selain itu, Trump mengatakan kepada NBC News bahwa AS dapat membantu mensubsidi upaya perusahaan minyak untuk membangun kembali infrastruktur energi Venezuela, sebuah proses yang diperkirakan dapat selesai dalam waktu kurang dari 18 bulan.
“Saya pikir kita bisa melakukannya dalam waktu kurang dari itu, tetapi akan membutuhkan banyak uang. Sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan minyak akan membiayainya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan,” ujarnya.
Dalam wawancara tersebut, NBC News menyebut Trump menyinggung beberapa pejabat AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, sebagai tokoh yang akan membantu mengarahkan keterlibatan AS di Venezuela.
‘Saya’ yang Bertanggung Jawab
Ketika ditanya siapa yang akan bertanggung jawab atas Venezuela, Trump menjawab satu kata: “Saya.”
Baca Juga: 6 Negara Kecam Upaya AS Mau Kuasai Sumber Daya Venezuela
Pada Senin 5 Januari 2026, Maduro mengaku tidak bersalah di pengadilan New York atas tuduhan federal, termasuk terorisme narkoba dan konspirasi untuk mengimpor kokain, sambil menegaskan bahwa dia tetap menjadi pemimpin negaranya.
Wakil Presiden Delcy Rodriguez secara resmi dilantik sebagai presiden sementara pada Senin setelah penangkapan Maduro.
Trump mengatakan Rodriguez telah bekerja sama dengan pejabat AS, namun menegaskan bahwa tidak ada kontak antara sekutunya dan pihak Amerika sebelum penangkapan Maduro.
“Tidak, bukan begitu,” kata Trump, menambahkan bahwa keputusan akan segera dibuat mengenai apakah sanksi yang ada terhadap Rodriguez akan tetap berlaku atau dicabut.
Saat ditanya apakah ada “kesepakatan dengan pejabat mana pun di Venezuela untuk menyingkirkan” Maduro, Trump menjawab: “Ya, karena banyak orang ingin membuat kesepakatan, tetapi kami memutuskan untuk melakukannya dengan cara ini.”
Dia tidak mengonfirmasi apakah telah berbicara secara pribadi dengan Rodriguez, namun mencatat bahwa Rubio “berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol” dan bahwa “hubungan mereka sangat kuat.”
Trump juga menyinggung kemungkinan operasi militer kedua di Venezuela jika Rodriguez berhenti bekerja sama dengan pejabat Amerika, meskipun dia mengatakan tidak mengharapkan hal itu terjadi dan awalnya memperkirakan mungkin harus mengirim pasukan AS lagi.
“Kami siap melakukannya. Sebenarnya, kami mengantisipasinya,” ujarnya.
Para anggota parlemen dari kedua partai menunjukkan bahwa Trump tidak meminta otorisasi Kongres baru untuk operasi Sabtu pagi, dan dalam wawancara tersebut, dia menyatakan tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk mengirim pasukan AS kembali.
“Kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Dan Kongres tahu apa yang kami lakukan selama ini, tetapi kami mendapat dukungan yang baik dari Kongres. Mengapa mereka tidak mendukung kami?” kata Trump.
(Sumber : Antara)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/aa.) (Antara)