Trump: Rezim Kuba Bakal Runtuh

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jan 2026, 16:09
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Tangkapan layar - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Minggu (26/10/2025). Tangkapan layar - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Minggu (26/10/2025). (ANTARA)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keyakinannya bahwa rezim yang berkuasa di Kuba berada di ambang keruntuhan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump tak lama setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Venezuela, negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu strategis Havana.

Situasi politik di kawasan memanas setelah operasi militer AS di Venezuela berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Perkembangan itu dinilai berdampak langsung terhadap Kuba, mengingat hubungan erat antara kedua negara dalam bidang politik dan ideologi.

“Kuba sudah siap runtuh,” kata Trump dalam pernyataannya yang dilansir pada Senin, 5 Januari 2026.

Meski mengungkapkan pandangan tersebut, Trump menepis kemungkinan Amerika Serikat akan melakukan langkah militer serupa terhadap Kuba. Menurutnya, tidak ada kebutuhan untuk intervensi langsung karena situasi internal Kuba dinilai telah melemah dengan sendirinya.

Baca Juga: Inflasi Desember 2025 Capai 0,64 Persen, Cabai Rawit dan Emas Perhiasan Jadi Biang Kerok

Baca Juga: Menkum: Penyusunan KUHAP Libatkan Fakultas Hukum hingga Masyarakat Sipil Seluruh Indonesia

“Saya rasa kita tidak perlu mengambil tindakan apa pun. Sepertinya rezimnya sedang tumbang,” kata Trump.

Sementara itu, pemerintah Kuba merespons keras langkah militer Amerika Serikat di Venezuela. Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel secara terbuka mengecam aksi tersebut, terutama karena dampaknya terhadap pemerintahan Nicolas Maduro.

Sebagai bentuk sikap politik dan solidaritas, Díaz-Canel menetapkan masa berkabung nasional. Keputusan itu diambil untuk menghormati 32 warga negara Kuba yang dilaporkan tewas saat berusaha mempertahankan pemerintahan Maduro di Venezuela.

Langkah tersebut memperlihatkan posisi Kuba yang tetap berdiri di belakang sekutunya, di tengah tekanan geopolitik yang kian meningkat dan pernyataan Trump yang menyebut rezim di Havana tinggal menunggu waktu untuk runtuh.

HIGHLIGHT

x|close