Kim Jong Un Pimpin Uji Rudal Hipersonik di Tengah Ketegangan Amerika dan Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jan 2026, 11:48
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasongpho-17 milik Korea Utara, 25 Maret 2022. ANTARA/KCNA/HO via Xinhua/tm/am. Arsip foto - Uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasongpho-17 milik Korea Utara, 25 Maret 2022. ANTARA/KCNA/HO via Xinhua/tm/am. (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Korea Utara (Korut) pada Minggu, 4 Januari 2026, melakukan uji coba rudal hipersonik yang menghantam sasaran sejauh sekitar 1.000 kilometer di lepas pantai timur negara tersebut, menurut laporan media resmi setempat.

Pemimpin Korut Kim Jong Un memimpin langsung uji peluncuran rudal dari Pyongyang ke arah timur laut, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) pada Senin, 5 Januari 2026.

"Merupakan tugas strategis yang sangat penting untuk mempertahankan dan memperluas daya tangkal nuklir yang kuat dan andal," kata Kim seperti dikutip KCNA.

Ia menambahkan uji coba tersebut menunjukkan kesiapan kekuatan nuklir Korut yang dilakukan

"tanpa penyesalan dan memberikan kepercayaan diri."

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang mengungkapkan sedikitnya dua rudal balistik diluncurkan dari pantai barat Korut pada Minggu, 4 Januari 2026, sekitar pukul 07.54 dan 08.05 waktu setempat.

Baca Juga: Korsel Laporkan Korut Luncurkan Rudal Balistik ke Timur Laut Wilayahnya

Menurut kementerian tersebut, kedua rudal mencapai ketinggian maksimum sekitar 50 kilometer dan masing-masing terbang sejauh 900 kilometer serta 950 kilometer. Rudal-rudal itu diduga jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang.

Kim juga meminta agar Korut "terus meningkatkan sarana militer, terutama sistem persenjataan ofensif." Ia menambahkan bahwa upaya membuat "para pesaing terus-menerus dan berulang kali menyadari kesiapsiagaan sarana ofensif" Korut merupakan "cara penting dan efektif untuk menerapkan daya tangkal perang."

Kim menyebut langkah tersebut bertujuan menjadikan "daya tangkal perang nuklir" Korut berada pada tingkat yang sangat maju, menurut laporan KCNA.

Secara tersirat, Kim menggunakan peristiwa penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer Amerika Serikat sebagai pembenaran atas perlunya Korut memiliki kekuatan nuklir dan militer yang kuat.

Baca Juga: Kim Jong Un Berikan Pengakuan Soal Tentara Korut Dikirim ke Rusia

"Mengapa hal itu [senjata nuklir] diperlukan, dicontohkan oleh krisis geopolitik baru-baru ini dan peristiwa internasional yang rumit," kata Kim.

Pada Minggu, 4 Januari 2026, Kementerian Luar Negeri Korut mengecam keras serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela sebagai "bentuk pelanggaran kedaulatan yang paling serius" serta "pelanggaran sewenang-wenang" terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional.

Kementerian tersebut menyatakan serangan itu menegaskan "sifat liar dan brutal" Amerika Serikat.

Sejumlah media Korea Selatan menilai peluncuran rudal tersebut sebagai peringatan kepada Presiden Lee Jae Myung agar tidak mengangkat isu program nuklir Korut dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping pada Senin, 5 Januari 2026.

Dalam parade militer di Pyongyang pada Oktober lalu, Korut juga memamerkan rudal balistik jarak pendek yang dikenal sebagai Hwasong-11, yang dipersenjatai dengan hulu ledak hipersonik.

(Sumber: Antara) 

HIGHLIGHT

x|close