Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai regulasi yang mampu mengikuti perkembangan global di bidang bioteknologi dan farmasi menjadi faktor penting untuk mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan pasar global manufaktur Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) diproyeksikan tumbuh dari 41,46 miliar dolar AS atau sekitar Rp697,73 triliun pada 2026 menjadi 86,76 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.460 triliun pada 2031. Pertumbuhan tersebut diperkirakan mencapai tingkat Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 15,91 persen.
“Data tersebut menunjukkan bahwa ATMP mengalami pertumbuhan yang dinamis dan semakin cepat di seluruh dunia. Perkembangan ini menegaskan pentingnya kesiapan regulasi yang kuat dan adaptif untuk melindungi kesehatan masyarakat, sekaligus memastikan akses yang aman, efektif, dan efisien terhadap terapi inovatif,” kata Taruna Ikrar.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara neurosains, inovasi farmasi, dan kepemimpinan regulasi sebagai fondasi dalam mendorong hilirisasi riset sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia.
Baca Juga: BPOM Dukung Pengembangan Vaksin Dengue mRNA
"BPOM telah menetapkan pedoman evaluasi produk terapi lanjut melalui Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced, termasuk sertifikasi Good Manufacturing Practices (GMP) dan pengawasan digital monitoring efek samping obat melalui e-MESO," katanya.
Taruna menambahkan, BPOM tidak hanya berperan melindungi masyarakat melalui pengawasan obat dan makanan, tetapi juga membuka peluang investasi di sektor tersebut.
Dalam mendukung hilirisasi hasil penelitian, BPOM mendorong penguatan kolaborasi triple helix atau sinergi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah (ABG).
Sejauh ini, BPOM telah menjalin 186 kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi serta memberikan pendampingan mulai dari tahap riset hingga proses perizinan terhadap sejumlah produk inovatif, di antaranya Vaksin Merah Putih, Insulin Detemir, dan terapi sel punca.
Baca Juga: BPOM Sebut Prototipe Vaksin Dengue mRNA Perkuat Kemandirian Farmasi dan Bioteknologi Nasional
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem inovasi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.
Selain itu, BPOM terus memperkuat penerapan Good Regulatory Practices (GRP), memperluas kerja sama regional maupun internasional, serta mengembangkan digitalisasi sistem pengawasan. Upaya tersebut semakin diperkuat setelah Indonesia memperoleh pengakuan sebagai WHO-Listed Authority (WLA) untuk vaksin, yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan dunia terhadap sistem regulasi nasional.
“Status WLA harus dipertahankan melalui kinerja konsisten dan perbaikan berkelanjutan,” kata Kepala BPOM Taruna Ikrar.
(Sumber: Antara)
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar. (Antara)