Ntvnews.id, New York - Presiden Venezuela Nicolas Maduro kini ditahan di Pusat Penahanan Metropolitan (Metropolitan Detention Center/MDC) di New York City, Amerika Serikat. Penjara federal tersebut dikenal sebagai fasilitas dengan reputasi kelam dan pernah menjadi tempat penahanan sejumlah figur ternama, mulai dari tokoh publik hingga gembong narkoba.
Dilansir dari CNN International, Senin, 5 Januari 2026, penjara federal di New York itu kerap disorot karena kondisi penahanan yang dinilai memprihatinkan. Fasilitas tersebut sering menghadapi persoalan kekurangan petugas, kekerasan antarwarga binaan, hingga insiden pemadaman listrik.
MDC New York dibangun pada dekade 1990-an dan tercatat pernah menahan sejumlah nama besar yang tersandung kasus hukum. Di antaranya penyanyi R. Kelly, sosialita Ghislaine Maxwell, mantan pelaku industri kripto Sam Bankman-Fried, serta musisi Sean “Diddy” Combs atau P Diddy.
Baca Juga: Trump Buka Peluang Luncurkan Serangan Gelombang Kedua ke Venezuela
Selain itu, pemimpin kartel narkoba Meksiko Ismael “El Mayo” Zambada Garcia juga masih mendekam di penjara tersebut sambil menunggu persidangan atas dakwaan pembunuhan dan perdagangan narkoba.
Dalam proses pembelaan P Diddy pada akhir 2024, pengacaranya, Marc Agnifilo, sempat menyinggung kondisi penahanan kliennya di MDC New York.
“Sangat sulit menjadi narapidana di sana,” katanya di persidangan.
Ancaman kekerasan disebut menjadi risiko yang terus menghantui para tahanan di MDC New York. Pada Juni 2024, seorang narapidana dilaporkan tewas akibat penikaman, disusul kematian tahanan lain dalam perkelahian sebulan kemudian.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Sabtu, 3 Januari 2026 mempublikasikan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Istimewa)
Penjara tersebut juga pernah mengalami pemadaman listrik besar pada 2019 yang membuat para narapidana terkurung dalam kegelapan total dan suhu dingin ekstrem selama sekitar satu pekan. Insiden itu berujung pada penyelidikan Departemen Kehakiman AS dan menghasilkan kesepakatan ganti rugi sebesar USD 10 juta bagi sekitar 1.600 narapidana terdampak.
Berdasarkan gugatan yang diajukan, para tahanan disebut dikurung di dalam sel selama berhari-hari serta harus bertahan dalam kondisi tidak higienis akibat toilet yang rusak.
Saat ini, MDC menjadi satu-satunya pusat pemasyarakatan federal yang melayani Kota New York, setelah kompleks penjara Manhattan ditutup pascakematian Jeffrey Epstein, miliarder yang menjadi terdakwa kasus perdagangan seks dan ditemukan tewas akibat bunuh diri pada 2019.
Penahanan Maduro sendiri terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah titik di Venezuela, yang disebut sebagai puncak tekanan berbulan-bulan pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap negara tersebut. Operasi itu memicu kecaman dari sejumlah pemimpin dunia.
Baca Juga: Venezuela Nilai Serangan AS Ancam Stabilitas Amerika Latin
Maduro ditangkap pada Sabtu, 3 Januari 2026 dini hari, diawali serangan oleh pasukan Amerika Serikat. Washington menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah, sebelum membawanya bersama sang istri, Cilia Flores, ke Amerika Serikat.
Trump sebelumnya mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menudingnya mendukung kartel narkoba. Ia menuduh Maduro serta jaringan narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat peredaran narkoba ilegal.
Sejak September 2025, pasukan AS juga dilaporkan telah menewaskan lebih dari 100 orang dalam sedikitnya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di kawasan Karibia dan Pasifik. Sejumlah pakar hukum menilai langkah-langkah tersebut berpotensi melanggar hukum Amerika Serikat maupun hukum internasional.
Maduro ditangkap oleh pasukan AS dalam operasi malam hari di Venezuela. (Istimewa)