Ntvnews.id, Jakarta - Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro kembali menyorot sejarah panjang intervensi Amerika Serikat terhadap pemimpin negara lain. Dalam sejumlah kasus, Washington tidak hanya menjatuhkan rezim, tetapi juga menangkap langsung kepala negara dengan dalih penegakan hukum, perang melawan narkoba, atau ancaman keamanan nasional.
Manuel Noriega: Dijatuhkan Lewat Invasi Panama
Preseden paling awal terjadi pada 1989 saat Amerika Serikat menginvasi Panama untuk menjatuhkan Manuel Noriega, pemimpin militer dan penguasa de facto negara tersebut. Washington berdalih invasi dilakukan untuk melindungi warga AS, memulihkan demokrasi, serta memberantas korupsi dan perdagangan narkoba.
Setahun sebelumnya, Noriega telah didakwa di Miami atas tuduhan penyelundupan narkoba. Ia dikenal membatalkan hasil pemilu 1989, memaksa Presiden Nicolas Ardito Barletta mundur, dan mendorong sentimen anti-AS. Setelah ditangkap, Noriega diterbangkan ke AS, diadili di Miami, dipenjara hingga 2010, lalu diekstradisi ke Perancis sebelum dipulangkan ke Panama. Ia meninggal dunia pada 2017 saat menjalani hukuman penjara.
Saddam Hussein: Ditangkap Pasca-Invasi Irak
Saddam Hussein ditangkap pasukan AS pada 13 Desember 2003, sembilan bulan setelah invasi Irak. Invasi itu didasarkan pada tuduhan kepemilikan senjata pemusnah massal (WMD) dan hubungan dengan kelompok teroris, yang belakangan tidak terbukti.
Ironisnya, Saddam pernah menjadi sekutu AS pada era Perang Iran-Irak. Ia ditemukan bersembunyi di dekat kampung halamannya di Tikrit, diadili oleh pengadilan Irak, dan dijatuhi hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Saddam dieksekusi pada 30 Desember 2006.
Baca Juga: KPK Buka Peluang Panggil Rieke Diah Pitaloka Terkait Kasus Ade Kuswara
Juan Orlando Hernandez: Dari Sekutu Menjadi Terdakwa
Mantan Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez ditangkap pada Februari 2022, hanya beberapa hari setelah lengser. Ia diekstradisi ke AS atas tuduhan korupsi dan perdagangan narkoba, lalu divonis 45 tahun penjara.
Namun, pada 1 Desember 2025, Hernandez mendapat pengampunan dari Presiden AS Donald Trump. Tak lama kemudian, jaksa agung Honduras menerbitkan surat perintah penangkapan internasional, memicu kekacauan hukum dan politik di negaranya.
Baca Juga: Mahathir Mohamad Dilarikan ke RS Jantung
Nicolas Maduro: Penangkapan Terbaru
Arsip foto - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato setelah konferensi pers dengan anggota pers internasional di Hotel Eurobuilding di ibu kota Caracas, 15 September 2025. ANTARA/Ivan Mcgregor/Andolu/pri. (Antara)
Penangkapan Nicolas Maduro menambah daftar kepala negara yang berhadapan langsung dengan tindakan Amerika Serikat. Donald Trump menyebut operasi ini sebagai bagian dari upaya menghadapi ancaman narkoba, migrasi ilegal, dan narko-terorisme.
Trump menuding Venezuela sebagai sumber krisis migrasi dan jalur utama penyelundupan narkoba, termasuk fentanil. Washington juga menetapkan Tren de Aragua dan Cartel de los Soles sebagai organisasi teroris asing, serta menuduh Maduro sebagai pemimpin Cartel de los Soles. Seluruh tudingan tersebut dibantah keras oleh pemerintah Venezuela.
Tangkapan layar - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN yang digelar di Kuala Lumpur Convention Center, Malaysia, Minggu (26/10/2025). (ANTARA)