Ntvnews.id, Moskow - Dua warga Rusia ditangkap dan diduga mengalami penyiksaan setelah secara terbuka mempertanyakan hasil pemilihan parlemen pada September 2026. Keduanya menuding adanya kecurangan yang menguntungkan Partai Rusia Bersatu, partai pendukung Presiden Vladimir Putin.
Partai Rusia Bersatu sebelumnya berhasil memenangkan pemilihan anggota parlemen atau State Duma. Pemerintah Rusia menyebut hasil tersebut mencerminkan 'tingkat kohesi yang luar biasa' masyarakat dalam mendukung Putin, meskipun negara itu menghadapi tekanan ekonomi akibat perang dan sanksi negara-negara Barat.
Dilansir dari AFP, Minggu, 8 November 2026, dua warga yang kini mendekam di tahanan tersebut adalah aktivis lingkungan Dmitry Morozov dan pengamat politik Alexander Kynev. Keduanya ditangkap dengan tuduhan kasus narkoba setelah menyampaikan kritik terhadap hasil pemilu.
Persoalan bermula setelah pemilihan parlemen pada September lalu. Morozov mengunggah sejumlah video melalui Telegram yang menuding proses pemungutan suara telah dimanipulasi untuk memenangkan Partai Rusia Bersatu.
Baca Juga: Rusia Bombardir Pusat Bantuan Kemanusiaan di Ukraina
Dalam unggahannya, ia menyebut bahwa 'pemilu telah dicuri' demi menguntungkan partai yang didukung Putin tersebut.
Tidak lama setelah pernyataan itu beredar, sejumlah agen Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mendatangi dan menggeledah apartemen orang tua Morozov di Izhevsk. Dalam penggeledahan tersebut, petugas mengklaim menemukan narkoba sintetis seberat 1,38 gram.
Kekasih Morozov, Bagina, mengungkapkan bahwa pasangannya kemudian ditangkap dan mengalami kekerasan selama proses penahanan.
"Saat penangkapannya, dia [Morozov] dipukuli, disetrum di wajah, tulang rusuk, dan kakinya, serta digantung terbalik dengan kakinya diborgol," ujar kekasihnya, Bagina, dalam sebuah unggahan media sosial.
"Setelah disiksa dalam waktu lama, dia terus ditendang. Mereka [polisi] mencoba memaksanya untuk mengaku dengan mengklaim bahwa dia telah memberikan dana pada Ukraina," tambah dia.
Kuasa hukum Morozov, Denis Varlamov, turut mempertanyakan proses hukum terhadap kliennya. Ia menilai terdapat kejanggalan dalam penanganan kasus tersebut karena tersangka kasus narkoba serupa biasanya tidak langsung ditahan.
"Namun, karena ada unsur politik di sini, dia langsung ditahan tanpa pemeriksaan atau diskusi apa pun," ujar Varlamov.
Kasus penangkapan tersebut bukan satu-satunya yang terjadi selama pemilihan parlemen. Kelompok hak asasi manusia setempat mencatat sedikitnya 20 orang ditangkap dalam periode pemilu.
Nasib serupa dialami Alexander Kynev. Sebelum ditangkap, pengamat politik tersebut sempat menyampaikan tudingan bahwa jumlah suara dan pemilih Partai Rusia Bersatu sebenarnya jauh lebih sedikit dibandingkan angka yang diumumkan secara resmi.
Pada hari yang sama, Kynev juga menuliskan keluhannya melalui media sosial setelah berbulan-bulan memantau jalannya kampanye pemilihan.
Ia menulis: 'sangat lelah setelah empat bulan memantau kampanye secara intensif'.
Namun, dua hari setelah unggahan tersebut, Kynev ditangkap di Moskow. Ia kemudian dijerat tuduhan perdagangan narkoba dalam skala besar yang dapat membuatnya menghadapi ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara apabila terbukti bersalah.
Kynev juga mengaku menjadi korban pemukulan oleh polisi saat proses penangkapan. Dalam persidangan di pengadilan Moskow melalui sambungan konferensi video, ia terlihat menggunakan gips pada kakinya dan mengaku mengalami patah tulang di dua bagian.
Selama menjalani penahanan, Kynev ditempatkan di dalam sel yang dihuni 35 orang. Fasilitas toilet di ruangan tersebut hanya berupa lubang di lantai.
Kondisi itu dinilai sangat menyulitkan Kynev yang harus menggunakan gips mulai dari bagian pinggul hingga ujung jari kaki.
"Mustahil digunakan bagi seseorang yang memakai gips dari pinggul hingga ujung jari kakinya," ujar pengacara Kynev, Mikhail Biryukov.
Arsip foto - Tanda (Antara)