Jaringan Scam Pindah dari Kamboja ke Madagaskar, Rekrut Korban Lewat Facebook

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Nov 2026, 09:03
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditahan di fasilitas detensi Pemerintah Kamboja di Pochentong, Phnom Penh. Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditahan di fasilitas detensi Pemerintah Kamboja di Pochentong, Phnom Penh. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Jaringan penipuan daring atau online scam yang sebelumnya beroperasi di Kamboja diduga memindahkan sebagian aktivitasnya ke Madagaskar, Afrika. Sindikat tersebut disinyalir merekrut warga dari sejumlah negara Afrika melalui media sosial dengan tawaran pekerjaan dan gaji, tetapi justru berujung pada praktik perdagangan manusia.

Dilansir dari Asia News, Senin, 2 November 2026, Otoritas Madagaskar menemukan keterkaitan antara sejumlah pusat penipuan yang dibongkar di negaranya dengan jaringan kriminal yang sebelumnya menjalankan operasi serupa di Kamboja.

Sindikat tersebut menjalankan berbagai modus kejahatan, mulai dari penipuan asmara atau romance scam, penipuan investasi, hingga penipuan berkedok mata uang kripto.

Dalam operasi yang berlangsung pada Agustus dan September 2026, aparat Madagaskar membongkar 13 kompleks penipuan yang dioperasikan oleh warga negara China. Penggerebekan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DoJ).

Baca Juga: Di PBB, Kamboja Desak Penyelesaian Sengketa Thailand

Kementerian Kehakiman Madagaskar menyatakan sebanyak 148 warga negara China yang terlibat dalam aktivitas tersebut telah diekstradisi ke negara asalnya.

Sementara itu, otoritas AS melaporkan penyitaan aset mata uang kripto senilai sekitar US$52 juta hanya dalam satu hari operasi. Petugas juga memeriksa lebih dari 3.200 perangkat elektronik yang diduga berkaitan dengan aktivitas ilegal tersebut.

Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) sebelumnya telah memperingatkan mengenai meluasnya jaringan penipuan daring, terutama ke wilayah Afrika bagian selatan.

Pekerja Direkrut dengan Iming-iming Pekerjaan

Pola perekrutan yang digunakan sindikat di Madagaskar diduga serupa dengan praktik pusat penipuan di Asia Tenggara. Para pelaku memanfaatkan media sosial untuk menawarkan pekerjaan bergaji kepada warga dari berbagai negara Afrika.

Sekitar 20 warga negara Kenya, Rwanda, Uganda, dan Zimbabwe saat ini berada dalam tahanan otoritas Madagaskar. Namun, hasil penyelidikan awal mengindikasikan sebagian dari mereka kemungkinan merupakan korban perdagangan manusia yang dipaksa menjalankan penipuan daring.

Kepala Unit Kriminal Kepolisian Madagaskar, Hassan Mouigni, menjelaskan para pekerja tersebut awalnya direkrut melalui Facebook untuk bekerja di sektor perdagangan.

"Berdasarkan pengakuan mereka, mereka direkrut melalui Facebook untuk datang bekerja di Madagaskar dalam sektor perdagangan," kata Hassan Mouigni, dikutip dari AFP.

Namun, setelah tiba di Madagaskar, mereka diduga kehilangan kebebasan karena paspor disita oleh pihak yang merekrut. Mereka kemudian dipaksa terlibat dalam aktivitas penipuan.

"Tetapi ketika mereka tiba di sini, sebagian besar paspor mereka disita oleh bos dan mereka dipaksa melakukan penipuan. Mereka adalah korban penipuan," lanjutnya.

Penyelidikan Temukan Kaitan dengan Kamboja

Salah satu tersangka yang diduga menjalankan penipuan asmara adalah warga negara Malaysia bernama Chui Kok Wa. Menurut otoritas AS, Chui mengoperasikan aktivitas penipuannya dari sebuah vila di kawasan elite Ivato, dekat Antananarivo, ibu kota Madagaskar.

Penelusuran dokumen perjalanan Chui turut mengungkap dugaan keterkaitannya dengan Kamboja. Riwayat visa dalam paspornya menunjukkan ia pernah berada di negara Asia Tenggara tersebut sebelum datang ke Madagaskar.

"Dari visa di paspornya, kami dapat menyimpulkan bahwa ia pertama kali tiba di sini pada 2024. Berdasarkan paspornya, sebelumnya ia berada di Kamboja," ujar Mouigni.

Departemen Kehakiman AS menduga jaringan kriminal yang memiliki keterkaitan dengan warga Malaysia dan China mulai membangun pusat-pusat penipuan di Madagaskar pada awal 2025.

Pemindahan operasi tersebut diduga dilakukan setelah aparat penegak hukum meningkatkan pemberantasan pusat penipuan daring di Kamboja. Langkah itu membuat sindikat mencari lokasi baru untuk melanjutkan aktivitas ilegalnya.