Gunung Anak Krakatau Erupsi, Lava Pijar dan Dentuman Terdengar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Sep 2026, 09:33
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Gunung Anak Krakatau yang berada di kawasan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi. Erupsi terjadi berulang kali sejak Jumat, 4 September 2026 hingga Sabtu, 5 September 2026 dini hari, disertai kemunculan air mancur lava dan suara dentuman keras.

Meski aktivitas meningkat, status Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III atau Siaga. Masyarakat maupun wisatawan diminta tetap mematuhi batas aman yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.

Aktivitas erupsi tercatat mulai terjadi pada Jumat dini hari. Tiga letusan berlangsung berturut-turut pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, dan 04.28 WIB.

Erupsi kembali terjadi pada pukul 05.46 WIB. Saat itu, gunung api memuntahkan kolom abu berwarna hitam dengan ketinggian mencapai sekitar 300 meter. Abu tersebut teramati bergerak menuju arah barat dan barat laut.

Pengamat Gunung Api PVMBG Rioboniek Situmorang kemudian menyampaikan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta kondisi visual gunung melalui laporan berkala.

"Pengamatan visual: Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati," tulis Rioboniek Situmorang.

Aktivitas erupsi masih berlanjut hingga memasuki Sabtu dini hari. Dalam periode tersebut, aktivitas kegempaan akibat letusan juga terekam melalui instrumen pemantauan dengan durasi mencapai 21.600 detik.

"Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau erupsi menerus, berlangsung sejak tanggal 04 September 2026 pukul 23:07 WIB hingga saat laporan ini dibuat," lanjutnya.

Baca Juga: Inggris Kecam Putra Netanyahu usai Komentari Sengketa Pulau dengan Argentina

Lontaran material vulkanik bahkan sempat mengganggu perangkat kamera pemantauan di lapangan. Sementara itu, suara dentuman dan gemuruh dilaporkan terdengar dari pos pengamatan di daratan.

"Kondisi erupsi seperti ini diinterpretasikan sebagai 'lava fountain' atau lava air mancur. Terdengar dentuman dan gemuruh dari Pos PGA Pasauran. CCTV pengamatan di lapangan off terkena lontaran," paparnya.

Menyusul kondisi tersebut, otoritas memperketat imbauan keselamatan dengan melarang masyarakat dan wisatawan melakukan aktivitas terlalu dekat dengan kawah aktif. Pembatasan ini diberlakukan untuk mengantisipasi risiko lontaran material pijar dari gunung api.

"Tingkat aktivitas Gunung Api Anak Krakatau Level III (Siaga)," jelasnya.

Selain mempertahankan status Siaga, PVMBG juga mengeluarkan rekomendasi agar masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius tertentu.

"Rekomendasi: Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif," imbaunya.

Sementara itu, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, turut menjelaskan mengenai aktivitas kegempaan yang terekam instrumen pemantauan ketika kondisi gunung tertutup kabut sehingga aktivitas erupsi tidak selalu dapat diamati secara langsung.

"Erupsi tidak selalu terlihat secara visual. Ada yang hanya terekam di seismograf sehingga pemantauan kegempaan tetap penting," kata Suwarno.

TERKINI

Load More
x|close