Ntvnews.id, Beijing - Seorang siswi sekolah menengah pertama (SMP) di Shanghai, China, berhasil memperoleh penghasilan 18.000 yuan atau sekitar Rp45 juta hanya dalam tiga hari. Pendapatan tersebut diraih melalui aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dibuatnya untuk membantu orangtua memantau kebiasaan belajar anak.
Dilansir dari SCMP, Sabtu, 5 September 2026, Siswi tersebut bernama Zhu Shuhan, pelajar kelas dua SMP yang tidak mempunyai latar belakang sebagai programmer maupun kemampuan coding. Menurut laporan Shanghai Morning Post, Shuhan bahkan baru mengenal dan menggunakan teknologi AI sejak tahun lalu.
Aplikasi yang dikembangkannya diberi nama Zai Chang. Menariknya, Shuhan membuat aplikasi tersebut tanpa perlu menguasai bahasa pemrograman. Ia memanfaatkan large language model (LLM) dengan menjelaskan gagasan dan kebutuhan aplikasinya menggunakan bahasa sehari-hari, kemudian AI membantu mengubah instruksi tersebut menjadi kode program.
Seluruh tahapan pengembangan, mulai dari menyusun rancangan hingga menerapkan berbagai fungsi utama aplikasi, dapat diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tiga sampai empat hari. Dalam pengerjaannya, Shuhan juga menggunakan sejumlah perangkat pemrograman berbasis AI untuk mencari solusi ketika menghadapi persoalan teknis.
Aplikasi Zai Chang bekerja dengan mekanisme yang cukup sederhana. Orangtua terlebih dahulu mengunggah foto mereka ke dalam aplikasi. Setelah itu, sistem akan menciptakan sosok orangtua virtual yang bertugas menemani sekaligus mengawasi anak ketika mengerjakan tugas sekolah.
Apabila kamera mendeteksi anak sedang menggunakan ponsel atau meninggalkan tempat duduknya ketika belajar, karakter orangtua virtual yang muncul di layar akan memberikan peringatan melalui suara.
Setelah kegiatan belajar berakhir, aplikasi tersebut juga menghasilkan laporan mengenai tingkat konsentrasi anak selama menjalani sesi belajar.
Shuhan mengatakan, gagasan untuk menciptakan aplikasi tersebut berasal dari pengalaman yang ia alami sendiri. Ia mengaku kesulitan mendapatkan pendampingan belajar karena kedua orangtuanya memiliki kesibukan.
"Orangtua saya sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk mendampingi saya belajar. Saya sering kali terdistraksi dan diam-diam menggunakan ponsel saat mengerjakan PR," kata Shuhan.
Ia kemudian menyadari bahwa persoalan serupa juga dialami oleh sejumlah teman di sekolahnya.
"Banyak teman sekelas saya yang menghadapi tantangan serupa terkait disiplin diri. Saya ingin menciptakan kloning orangtua digital," lanjutnya.
Baca Juga: Mendikdasmen Sebut Coding dan AI Akan Jadi Mata Pelajaran Wajib di Sekolah
Kemampuan Shuhan dalam mengembangkan aplikasi tersebut kemudian terbukti ketika ia mengikuti kompetisi pemasaran produk AI tingkat nasional di Hangzhou pada 21-23 Agustus 2026. Dalam kompetisi itu, ia berhasil menempati peringkat ketiga dan mendapatkan hadiah sebesar 5.000 yuan setelah berhadapan dengan lebih dari 50 peserta.
Kompetisi tersebut memiliki konsep yang berbeda dari perlombaan teknologi pada umumnya. Tidak ada juri yang menilai kemampuan teknis para peserta. Pemenang ditentukan berdasarkan jumlah pendapatan yang berhasil dihasilkan masing-masing aplikasi selama tiga hari kompetisi.
Zai Chang menjadi salah satu aplikasi dengan performa terbaik setelah berhasil memperoleh 90 pesanan dengan nilai penjualan mencapai 18.000 yuan.
Namun, dalam proses pengembangannya, Shuhan justru memilih menghilangkan salah satu fitur yang semula dirancang untuk aplikasi tersebut, yakni fitur "ibu marah". Fitur itu sebelumnya dirancang untuk memberi tahu orangtua ketika anak terlalu sering kehilangan konsentrasi saat belajar.
"Saya tidak suka 'pembocor'. Saya ingin aplikasi saya bersikap lembut dan memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang," jelasnya.
Pengalaman membuat Zai Chang juga membuat Shuhan melihat potensi besar AI dalam membantu seseorang merealisasikan sebuah gagasan, bahkan tanpa kemampuan coding.
"Dari pengalaman mengembangkan aplikasi ini, saya menyadari bahwa selama Anda memiliki ide yang bagus, AI dapat mewujudkannya menjadi kenyataan," tegas Shuhan.
Saat ini, adik laki-laki Shuhan yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar menjadi salah satu pengguna awal aplikasi tersebut. Ia mengatakan aplikasi itu memberikan dampak positif terhadap kebiasaan belajar sang adik.
"Setelah diawasi oleh aplikasi ini, adik saya belajar dengan lebih tekun," ujar Shuhan.
Mendapatkan respons positif dari para pengguna, Shuhan kini berencana memperluas pemasaran Zai Chang. Ia juga ingin menawarkan aplikasi tersebut kepada lebih banyak orang dengan harga yang lebih terjangkau.
"Jika banyak orang yang bersedia membayar untuk aplikasi ini, saya akan terus mengembangkannya," ucapnya.
Ilustrasi Komputer (Pixabay)