Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Abu Vulkanik Membubung 250 Meter

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Agu 2026, 10:30
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak Gunung Anak Krakatau di Lampung meletus dan melontarkan abu vulkanik setinggi 250 meter di atas puncak (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Gunung Anak Krakatau yang berada di Lampung kembali mengalami erupsi pada Senin pagi, 24 Agustus 2026. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu yang mencapai ketinggian 250 meter dari atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menyampaikan bahwa erupsi terjadi pada pukul 09.41 WIB. Aktivitas tersebut tercatat pada seismogram dengan amplitudo maksimum 52 milimeter dan berlangsung selama kurang lebih satu menit 17 detik.

"Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat laut," kata Lana.

Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Baca Juga: PVMBG: Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali pada 17 Agustus 2026

Menyikapi kondisi tersebut, Badan Geologi meminta masyarakat untuk menjauhi kawasan gunung guna menghindari potensi bahaya akibat material vulkanik yang terlontar saat erupsi. Imbauan itu berlaku bagi masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki agar tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Lana kembali menegaskan agar aktivitas di sekitar kawasan yang masuk radius bahaya tersebut dihentikan, termasuk bagi nelayan yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.

" Tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif," kata Lana.

Badan Geologi juga mengingatkan nelayan untuk mematuhi batas aman yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi akibat aktivitas erupsi maupun lontaran material vulkanik.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close