Ntvnews.id, Jakarta - Gula darah tinggi sering kali tidak disadari karena tidak selalu menimbulkan gejala yang jelas. Kondisi ini terjadi ketika kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal.
Jika berlangsung dalam waktu lama, gula darah tinggi dapat meningkatkan risiko diabetes dan berbagai komplikasi kesehatan.
Lantas, apakah gula darah tinggi selalu menimbulkan gejala? Jawabannya adalah tidak. Sebagian orang, terutama mereka yang mengalami pradiabetes atau diabetes tipe 2 pada tahap awal, bisa saja tidak merasakan keluhan apa pun.
Mengapa Gula Darah Bisa Meningkat?
Glukosa merupakan sumber energi utama bagi tubuh yang berasal dari makanan dan minuman. Agar dapat digunakan oleh sel, glukosa membutuhkan bantuan hormon insulin yang diproduksi pankreas.
Ketika tubuh tidak menghasilkan insulin dalam jumlah cukup atau tidak dapat menggunakannya secara efektif, glukosa akan menumpuk di dalam aliran darah.
Baca Juga: Penderita Darah Tinggi, Hindari 7 Jenis Makanan dan Minuman Ini
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gula darah tinggi antara lain kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, faktor keturunan, serta kondisi medis tertentu.
Apa Saja Gejala Gula Darah Tinggi?
Meskipun tidak selalu menimbulkan keluhan, gula darah tinggi dapat menyebabkan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai.
Berikut beberapa tanda yang umum terjadi:
1. Sering merasa haus meskipun sudah cukup minum.
2. Lebih sering buang air kecil, terutama pada malam hari.
3. Mudah merasa lapar.
4. Tubuh terasa lelah dan tidak bertenaga.
5. Penglihatan menjadi kabur.
6. Berat badan turun tanpa alasan yang jelas.
7. Luka membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
8. Lebih sering mengalami infeksi tertentu.
Gejala tersebut dapat muncul ketika kadar gula darah meningkat. Namun, keluhan serupa juga bisa disebabkan oleh kondisi kesehatan lain sehingga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
Bagaimana Cara Mengetahui Kadar Gula Darah Normal?
Cara paling akurat untuk mengetahui kadar gula darah adalah melalui pemeriksaan laboratorium.
Baca Juga: Cara Menurunkan Darah Tinggi yang Efektif
Ada beberapa jenis pemeriksaan yang umum digunakan, yaitu:
1. Gula darah puasa: Mengukur kadar glukosa setelah seseorang tidak makan atau minum selain air putih selama minimal delapan jam.
2. HbA1c: Mengukur rata-rata kadar gula darah selama sekitar dua hingga tiga bulan terakhir.
3. Tes toleransi glukosa oral: Mengukur respons tubuh terhadap konsumsi larutan yang mengandung glukosa.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hasil pemeriksaan HbA1c di bawah 5,7 persen termasuk normal. Angka 5,7-6,4 persen menunjukkan pradiabetes, sedangkan 6,5 persen atau lebih dapat mengindikasikan diabetes.
Untuk pemeriksaan gula darah puasa, angka di bawah 100 mg/dL termasuk normal, 100–125 mg/dL menunjukkan pradiabetes, dan 126 mg/dL atau lebih dapat mengindikasikan diabetes.
Diagnosis perlu dikonfirmasi tenaga medis sesuai kondisi pasien dan hasil pemeriksaan yang dilakukan.
Bagaimana Cara Mencegah Gula Darah Tinggi?
Ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.
Pertama, terapkan pola makan seimbang dengan memperbanyak sayuran, buah utuh, sumber protein, dan makanan tinggi serat. Batasi konsumsi minuman manis serta makanan yang tinggi gula tambahan.
Baca Juga: 5 Cara Menurunkan Gula Darah Tinggi dengan Cepat, Salah Satunya Aktivitas Gampang Ini
Kedua, lakukan aktivitas fisik secara rutin. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau olahraga ringan lainnya dapat membantu tubuh menggunakan glukosa dengan lebih efektif.
Ketiga, pertahankan berat badan yang sehat, cukup tidur, dan lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Jika memiliki faktor risiko diabetes, jangan menunggu munculnya gejala untuk memeriksakan kadar gula darah. Deteksi dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius.
(Sumber: WHO)
Ilustrasi- Tangan memegang alat pengukur glukosa darah untuk mengukur gula darah, latar belakang berupa stetoskop dan map grafik (Magnific)