Ntvnews.id
“Biasanya kita memiliki jadwal rutin, misalnya bekerja dari pagi hingga sore. Saat liburan, aktivitas sosial meningkat, orang sering begadang atau menonton sampai larut, sehingga jam tidur berubah dan tubuh menjadi bingung menyesuaikan ritmenya,” kata Astri dalam diskusi kesehatan yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin 16 Maret 2026.
Menurut dia, tubuh manusia memiliki sistem biologis yang mengatur siklus tidur dan bangun melalui produksi hormon tertentu.
Ketika seseorang terbiasa tidur dan bangun pada waktu yang sama setiap hari, tubuh akan secara otomatis menyesuaikan produksi hormon tersebut.
Baca Juga: Rano Karno Buka Rakornas YKI, Dorong Pola Hidup Sehat dan Deteksi Dini
Namun, perubahan pola tidur selama beberapa hari dapat membuat tubuh memerlukan waktu untuk kembali menyesuaikan ritme biologisnya.
“Kalau perubahan hanya satu sampai dua hari, biasanya tubuh masih bisa menyesuaikan. Tapi kalau lebih dari dua atau tiga hari, ritme tidur bisa mulai kacau,” ujarnya.
Astri menjelaskan gangguan pola tidur dapat menimbulkan berbagai dampak jangka pendek, seperti kelelahan, menurunnya fokus, hingga munculnya fenomena yang dikenal sebagai “brain fog”, yakni kondisi ketika seseorang merasa sulit berpikir secara jernih.
Selain itu, kurang tidur juga dapat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh sehingga seseorang menjadi lebih mudah terserang penyakit.
“Secara keseluruhan mungkin masih bisa diatasi, tetapi pasti ada dampaknya terhadap sistem imun,” katanya.
Astri menambahkan bahwa tidur merupakan kebutuhan biologis yang sangat penting bagi manusia karena hampir sepertiga waktu hidup dihabiskan untuk tidur.
Karena itu, menjaga pola tidur yang konsisten menjadi salah satu langkah penting untuk mempertahankan kesehatan fisik maupun mental.
“Tidur bukan hanya sekadar beristirahat, tetapi juga proses biologis yang penting untuk memulihkan tubuh dan otak,” katanya.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi gangguan tidur. ANTARA/HO-Pixabay (Antara)