Ntvnews.id, New York - Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) kembali menyalurkan ribuan perlengkapan rekreasi serta paket pendidikan ke Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir.
Pengiriman ini dinilai sebagai langkah penting setelah hampir dua tahun pembatasan masuknya bahan-bahan pendidikan ke wilayah tersebut.
Juru bicara UNICEF, James Elder, menyampaikan bahwa dalam beberapa hari terakhir lembaganya berhasil memasukkan ribuan paket rekreasi dan ratusan paket sekolah dalam satu kotak ke Gaza.
“Kami dalam beberapa hari terakhir telah memasukkan ribuan paket rekreasi dan ratusan paket sekolah dalam satu kotak,” ujar Elder kepada wartawan di Jenewa.
Mengutip Antara, Rabu, 28 Januari 2026, UNICEF sejauh ini telah mengirim lebih dari 4.400 paket rekreasi dan 240 paket sekolah dalam satu kotak ke Gaza.
Selain itu, lembaga tersebut juga menyiapkan penyaluran tambahan berupa 2.875 paket rekreasi, sekitar 2.500 paket sekolah dalam satu kotak, serta lebih dari 1.000 paket pendidikan anak usia dini hingga akhir pekan ini. Dengan demikian, total distribusi diperkirakan melampaui 11.000 paket.
Baca Juga: Menlu: Dewan Perdamaian Jadi Langkah Konkret Dorong Perdamaian Gaza
Tak hanya itu, hampir 7.000 paket tambahan juga telah disiapkan untuk disalurkan dalam beberapa pekan mendatang. Elder menjelaskan, paket sekolah dalam satu kotak dirancang agar kegiatan belajar mengajar dapat segera berlangsung. Di dalamnya terdapat alat tulis, buku latihan, papan tulis kecil, alat bantu pengajaran seperti jam dan globe, serta perlengkapan dasar untuk pemeliharaan ruang kelas.
“Ini sudah menjadi dua tahun yang panjang bagi anak-anak dan bagi organisasi seperti UNICEF untuk mencoba menjalankan pendidikan tanpa material tersebut,” kata Elder, sembari menekankan bahwa saat ini mulai terlihat adanya perubahan yang signifikan.
UNICEF mencatat lebih dari 700.000 anak usia sekolah di seluruh Jalur Gaza tidak mengakses pendidikan formal sejak Oktober 2023. Saat ini, UNICEF mendukung lebih dari 135.400 anak yang mengikuti pembelajaran di lebih dari 110 ruang belajar di berbagai wilayah Gaza.
Dalam tahap awal program Back to Learning, UNICEF bersama mitra menargetkan peningkatan jumlah anak yang memperoleh pembelajaran tatap muka dan dukungan pemulihan psikososial dari 135.400 menjadi 336.000 anak sepanjang 2026.
Diharapkan seluruh anak usia sekolah dapat kembali mengikuti pendidikan tatap muka pada 2027, mengingat lebih dari 90 persen sekolah di Gaza mengalami kerusakan atau hancur, serta sekitar 60 persen anak masih belum memiliki akses ke pembelajaran langsung.
Warga Palestina menyambut gembira pengumuman kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di depan markas besar komite Mesir di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, Kamis (9/10/2025) waktu setempat. Israel dan Hamas, Kamis (9/10) menyepakati gen (ANTARA)
Elder menggambarkan kondisi ini sebagai hampir dua setengah tahun serangan terhadap sistem pendidikan Gaza yang menempatkan satu generasi anak dalam risiko serius.
Menanggapi pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut bahwa tahap berikutnya gencatan senjata akan menitikberatkan pada demiliterisasi, bukan rekonstruksi, Elder menegaskan bahwa fase kedua gencatan senjata merupakan kebutuhan kemanusiaan. “Tahap kedua sudah sangat jelas. Ini bukan tonggak politik, melainkan kebutuhan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi hunian yang tidak memadai sebagai salah satu penyebab kematian anak-anak akibat hipotermia. “Kami telah memastikan sedikitnya 10 anak meninggal akibat hipotermia. Itu tidak akan terjadi jika tersedia tempat tinggal yang lebih layak,” kata Elder.
Menurut Elder, tahap kedua gencatan senjata akan membuka peluang perbaikan berskala besar, termasuk di sektor perumahan dan pendidikan.
Baca Juga: Menlu Sugiono: Keikutsertaan Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza Diakui Dunia
Terkait penyeberangan Rafah, ia menyatakan hingga kini belum terlihat pergerakan meski banyak keluarga terpisah berada dalam situasi putus asa. Ia menilai tahap kedua gencatan senjata seharusnya menghilangkan alasan untuk terus menutup perlintasan tersebut.
Pernyataan itu disampaikan setelah Netanyahu pada Minggu mengatakan bahwa Israel akan membuka kembali perlintasan Rafah antara Gaza dan Mesir usai pemulangan jenazah sandera Israel terakhir dari Gaza yang berlangsung pada Senin.
Tahap kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza, yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, mencakup ketentuan pelucutan senjata Hamas dan faksi Palestina lainnya, penarikan tambahan pasukan militer Israel, serta dimulainya proses rekonstruksi.
Sejak Oktober 2023, operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 71.600 orang sebagian besar perempuan dan anak-anak serta melukai lebih dari 171.300 orang. Meski gencatan senjata telah diberlakukan, laporan mengenai serangan lanjutan yang menimbulkan korban tambahan masih terus bermunculan.
Arsip foto- Seorang anak bersama pengungsi lainnya menunggu pembagian makanan gratis dari pusat distribusi makanan di Kota Gaza, Palestina 14 Juli 2025. ANTARA/Xinhua/Rizek Abdeljawad/aa. (Antara)