Ntvnews.id, New York - Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini menegaskan bahwa Jalur Gaza kini berubah menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi jurnalis dan pekerja kemanusiaan. Ia mengungkapkan, lebih dari 230 jurnalis dilaporkan tewas selama konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
Mengacu pada keterangan di laman resmi UNRWA
“Jurnalis Palestina adalah mata dan telinga kami dalam melaporkan kengerian perang di Gaza. Mereka menggambarkan kekuatan manusia dan dampaknya, serta bekerja dengan keberanian dan ketabahan meski menghadapi risiko besar,” ujar Lazzarini, dikutip dari AFP, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menambahkan, para jurnalis di Gaza menjalankan tugasnya berdampingan dengan para pekerja kemanusiaan untuk mendokumentasikan penderitaan dan situasi warga sipil di tengah konflik.
Baca Juga: Menlu Tegaskan Board of Peace Tak Gantikan Peran PBB
Menurut Lazzarini, pembatasan akses media ke Jalur Gaza dimaksudkan untuk meruntuhkan kredibilitas laporan lapangan dan kesaksian organisasi kemanusiaan internasional, sekaligus merendahkan martabat rakyat Palestina.
Sebelumnya, tim pembongkaran Israel yang dikawal aparat kepolisian mulai meratakan markas UNRWA di Yerusalem Timur pada Selasa, 20 Januari. Pemerintah Israel menyebut lahan tempat berdirinya kompleks tersebut sebagai aset milik negara, serta menuduh UNRWA telah disusupi oleh kelompok pejuang Hamas.
Tuduhan itu dibantah UNRWA. Badan PBB tersebut menegaskan bahwa selama ini mereka menjalankan misi kemanusiaan, termasuk penyediaan bantuan, layanan pendidikan, dan kesehatan bagi warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza, serta menekankan bahwa seluruh fasilitasnya dilindungi oleh konvensi internasional.
Ilustrasi markas UNRWA di Tepi Barat, Palestina./ANTARA/Anadolu/py (Antara)