Ntvnews.id, London - Sejumlah pejabat di Inggris mengungkapkan kekhawatiran mengenai tingginya ketergantungan negara itu terhadap Amerika Serikat (AS) di bidang pertahanan, menyusul langkah perusahaan AS Lockheed Martin yang mengajukan penawaran untuk membangun satelit militer Inggris.
Dilansir dari Financial Time, Selasa, 27 Januari 2026, menyebut dalam laporan itu disebutkan, di internal pemerintah Inggris muncul keraguan terkait kebijakan pemberian kontrak program Skynet 6 kepada Lockheed Martin, terlebih di tengah pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang dinilai kian sulit diprediksi.
Sejumlah faktor turut memicu kegelisahan di London, di antaranya klaim Amerika Serikat atas Greenland serta pernyataan Trump mengenai peran negara-negara sekutu AS dalam misi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan.
Skynet sendiri merupakan sistem komunikasi satelit milik Kementerian Pertahanan Inggris yang berfungsi menyediakan layanan komunikasi bagi angkatan bersenjata Inggris serta negara-negara sekutunya.
Baca Juga: Oleh-oleh dari Inggris, Prabowo Bawa Pulang Investasi Rp90 Triliun dan 600 Ribu Lapangan Kerja
Lockheed Martin yang berkantor pusat di Washington saat ini bersaing dengan Airbus perusahaan yang telah mengelola program antariksa Inggris selama lebih dari 25 tahun untuk menggarap generasi terbaru satelit militer dalam proyek pertahanan strategis tersebut. Perusahaan AS itu juga mengusulkan pembangunan fasilitas di Inggris jika berhasil memenangkan kontrak.
Di sisi lain, sejumlah negara Eropa mulai mengambil langkah untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat. Prancis, misalnya, pada 2025 memilih sistem pesawat peringatan dini dan kendali GlobalEye buatan Swedia, menggantikan Wedgetail produksi Boeing dari AS, sebagaimana dilaporkan Financial Times.
NATO (NATO)
Sementara itu, pada Kamis lalu, Trump mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya meragukan kesiapan negara-negara NATO untuk membantu AS jika dibutuhkan. Ia menambahkan bahwa Washington selama ini tidak pernah benar-benar meminta dukungan dari para sekutunya.
Trump juga menyebut bahwa meskipun negara-negara sekutu mengirimkan pasukan ke Afghanistan, mereka tetap berada jauh dari garis depan pertempuran. Pernyataan tersebut memicu kemarahan di kalangan personel militer Inggris, kalangan politisi, hingga masyarakat luas.
Para demonstran anti-imigran mengibarkan bendera dan spanduk, sementara seorang demonstran pro-polisi secara bersamaan juga membawa spanduk di London, Inggris, pada 13 September 2025. (ANTARA)