Qatar Usulkan Blok Negara Kecil, Dorong Peran dalam Perdamaian Dunia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Nov 2026, 11:07
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Perdana Menteri Qatar dan Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani berbicara pada konferensi pers di Doha, Qatar 15 Januari 2025. Perdana Menteri Qatar dan Menteri Luar Negeri Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani berbicara pada konferensi pers di Doha, Qatar 15 Januari 2025. (( (Antara) (Xinhuaa ) ))

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, mengusulkan pembentukan kelompok negara yang disebut 'Negara-Negara yang Berkembang Pesat' (Thriving States).

Gagasan tersebut ditujukan kepada negara-negara berukuran kecil yang mampu mengubah keterbatasan wilayah menjadi keunggulan untuk mendorong kemajuan dan kemakmuran.

Jassim menilai negara-negara tersebut perlu memperkuat kerja sama dan mengambil peran bersama dalam menciptakan perdamaian serta stabilitas dunia.

"Oleh karena itu, saya ingin mengusulkan sebutan yang berbeda untuk kelompok negara tertentu: negara-negara yang tangkas, stabil, makmur, dan tepercaya, yang telah mengubah ukuran wilayah mereka menjadi sebuah keunggulan serta menjadi kontributor penting bagi perdamaian dan kemakmuran global. Saya menyebut mereka sebagai 'Negara-Negara yang Berkembang Pesat'," ujar Jassim dikutip dari Anadolu, Minggu, 6 November 2026.

Menurutnya, negara-negara dalam kelompok tersebut telah memberikan kontribusi penting terhadap kemakmuran global sekaligus menjaga perdamaian internasional.

Baca Juga: Kapal Tanker Qatar Diserang di Perairan Teluk

Kontribusi itu, kata Jassim, tidak lahir dari upaya masing-masing negara secara terpisah, melainkan melalui kerja sama yang kolektif, terstruktur, dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa negara-negara kecil kerap menjadi pihak pertama yang merasakan dampak konflik, meskipun bukan mereka yang memicu pertikaian tersebut.

Jassim memahami bahwa negara-negara berkembang pesat itu tidak memiliki kapasitas untuk menyelesaikan seluruh persoalan dunia secara mandiri. Kehadiran mereka juga tidak dimaksudkan untuk menggantikan posisi negara-negara besar.

"Namun, dengan menggabungkan keahlian, kemampuan ekonomi, dan jaringan diplomatik mereka, negara-negara ini dapat membantu membangun serta menjaga rantai perdamaian dan stabilitas bagi dunia," katanya.

Lebih lanjut, Jassim menegaskan negara-negara tersebut harus mengambil tanggung jawab atas keamanan dan stabilitas masing-masing. Mereka dinilai tidak seharusnya hanya bergantung pada pihak lain ataupun bersikap pasif menghadapi dinamika global.

Ia pun mengingatkan pentingnya keberanian untuk mengambil tindakan dalam menentukan arah perkembangan dunia.

"Sejarah dipenuhi oleh jejak mereka yang hanya menjadi penonton pasif; sejarah hanya merayakan mereka yang bertindak untuk membentuk jalannya peristiwa," ujar dia.

 

TERKINI

Load More